Sarjana Peluit, Menjemput Takdir di Pedalaman Kalimantan Barat (Fitrian Widianto, S.Pd.,Gr)

Oleh : Fitrian Widianto, S.Pd.,Gr

Fitrian Widianto hanyalah anak kecil yang tumbuh di sebuah gubuk sederhana di Kota Jambi. Saat teman-temannya bangga dengan tas baru setiap kenaikan kelas, ia cukup bersyukur dengan apa yang ia punya. Pakaian usang, buku lama, sepatu yang ia pakai sejak SD. Orang tuanya hanya pekerja serabutan yang penghasilannya sering kali hanya cukup untuk makan sehari.

Namun, di kelas, Fitrian Widianto adalah "raksasa". Ia dikenal cerdas dan banyak prestasinya. Berkat prestasi dan kondisi ekonominya, ia menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Namun, ia tak menggunakan uang bantuan itu untuk jajan. Tapi, untuk mengembangkan potensi dirinya.  Ia membeli buku dan menulis.

 

Memasuki masa SMP dan SMA, beban hidupnya semakin berat. Ia mulai paham jika semangat saja tidak cukup. Ia harus bergerak. Sambil tetap mempertahankan nilai akademiknya −agar beasiswa PIP terus mengalir− ia belajar membuat kerajinan dan hasil karya gambarnya dijual kepada teman-temannya di sekolah dan masyarakat sekitar. Tidak ada rasa malu. Baginya, rasa malu lebih kecil dibandingkan ketakutannya jika putus sekolah. 

Di titik ini, potensi dirinya mulai berkembang. Ia belajar bernegosiasi, mengelola uang kecil, dan disiplin. Setelah lulus SMA, ia Ingin kuliah, tapi tak ada biaya. Bayar biaya pendaftaran saja terasa mustahil. Secercah harapan muncul melalui beasiswa Bidikmisi (sekarang KIP Kuliah). Ia lolos Universitas Jambi, Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Fito memang mendapat uang saku dan gratis biaya kuliah, Namun, biaya hidup di kota sangatlah keras, apalagi jauh dari rumah. Ia mencari cara agar tak putus kuliah. Saat itu yang terpikir olehnya adalah menjadi tukang parkir. Dengan bermodalkan peluit, ia menjalani hari-harinya sebagai tukang parkir. Setiap sore hingga malam, ia melepas jaket almamaternya, ganti pakaian lusuh,menjadi tukang parkir di sebuah swalayan.  dan memegang peluit. 

Baginya, seribu atau dua ribu rupiah yang ia rapikan merupakan jembatan meraih sarjana. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan debu jalanan dan tumpukan buku, Fito berhasil jadi Sarjana Pendidikan (S.Pd).  Kemudian, mengikuti seleksi CPNS dan lolos jadi ASN. Semua ini atas doa orang tua dan bekal kemandirian selama masa sulit.  Kini, ia resmi menjadi Guru ASN di Kalimantan Barat. Dengan latar belakang sebagai aktivis pengabdian masyarakat, ia membawa semangat "Ilmu Bakti Pertiwi" dari tanah kelahirannya.






 





Selanjutnya, ia bertugas di SMPN 3 Satu Atap Toba, Desa Bagan Asam, Kabupaten Sanggau. Ia mendirikan rumah belajar kreatif sebagai jembatan mimpi bagi anak-anak pedalaman. Sesuai dengan niat awal saat datang ke Kalimantan Barat, ia ingin mengabdikan ilmunya untuk membangun negeri.  

Fito mengingat perjalanan awal ketika dia datang mengabdi di Kalimantan Barat ini, dengan tekad yang kuat untuk mengabdi kepada negeri. Sendirian dari Jambi dan pergi ke Kalimantan Barat dengan bermodalkan ilmu yang ingin dia abdikan kepada negeri.

Ia ingat betul tatapan lelaki tua di dermaga Pontianak yang sulit diartikan ketika ia menyebut Kecamatan Toba, Desa Bagan Asam. Sambil mengisap rokok kreteknya dalam-dalam, lelaki tua itu berdeham. "Hati-hati, Bujang. Di sana, jalanan tidak mengenal aspal, sulit ditembus, dan hutannya punya rahasia sendiri," ucapnya serak. Tapi, lika-liku sungai membentang di dalamnya, yaitu Sungai Kapuas belum ada jalan darat di sana.

Fitrian Widianto, pemuda yang tumbuh dengan riuh rendah pergerakan mahasiswa di Jambi, hanya tersenyum tipis. Dalam ranselnya, terselip beberapa potong pakaian, sebuah laptop, dan keyakinan naif bahwa semangat muda sanggup menaklukkan segala medan. Namun, keyakinan itu goyah saat saya mulai memasuki wilayah Kabupaten Sanggau.

Perjalanan menuju Bagan Asam adalah sebuah ziarah kesabaran. Kendaraan yang ia tumpangi meraung-raung. Rodanya bergelut dengan lumpur kuning yang lengket, masyarakat lokal menyebutnya "bubur tanah". Hutan sawit dan hutan rimba berganti-ganti menghiasi jendela. Ketika akhirnya ia menginjakkan kaki di Desa Bagan Asam, kesunyian segera menyergap. Tidak ada sinyal ponsel yang biasanya menjadi napas bagi pemuda kota. Hanya ada suara jangkrik, kepak sayap burung enggang di kejauhan, dan aliran sungai yang tenang, tetapi menghanyutkan.













Perjalanan menuju SMPN 3 Satu Atap Toba membutuhkan waktu 7 jam. Ia harus melewati sungai yang menjadi akses utama ke sana. Ketika sampai di sana,ia melihat sekolah yang sangat sederhana, tapi menyimpan beban berat di pundak atapnya yang mulai kusam. Di sekolah ini, ia merasa, pengabdian itu bukan lagi sekadar retorika di ruang seminar, melainkan realitas yang harus dijalani nafas demi napas.

Hari pertama mengajar merupakan tamparan bagi idealismenya. Ia datang dengan rencana pembelajaran yang rapi, lengkap dengan bayangan diskusi interaktif yang cerdas. Namun, kenyataannya, banyak kursi yang kosong.

"Halo anak anak! Saya Pak Fito asal Jambi. Di mana teman-teman kalian yang lain?" tanyanya pada seorang siswi bermata jernih. "Lagi bantu Bapak di ladang, Pak. Sedang musim tanam," jawabnya polos. Rupanya di Bagan Asam, pendidikan menjadi prioritas kedua setelah perut. Anak-anak di sini adalah tenaga kerja yang berharga bagi keluarga mereka. Mereka adalah petarung alam. Mereka bisa memanjat pohon setinggi sepuluh meter atau menangkap ikan dengan tangan kosong, tapi gemetar saat harus memegang pena dan mengeja kata "Metamorfosis".

Fasilitas sekolah sangat terbatas. Hanya ada dua ruang kelas di sekolah ini. Tidak ada ruang guru, ruang UKS, perpustakaan, dan ruang lainnya. Namun, keterbatasan itulah yang memaksa Pak Fito kembali ke akar pendidikan untuk kreativitas bagi anak anak ini.

Ia membawa mereka keluar kelas. Di sana, mereka tidak belajar tentang buku-buku dari gambar yang sudah sobek, melainkan langsung dari lahan kosong di belakang rumah dinas sekolah. Di sana dengan tenang, Pak Fito menggunakan tutup botol dan daun-daun kering untuk mengajarkan kreativitas kecil. Di tengah segala kekurangan, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia temukan di kota. Rasa lapar akan pengakuan bahwa mereka juga bagian dari Indonesia.

Suatu sore, kali pertama hujan turun dengan lebatnya. Hujan Kalimantan yang seolah ingin menumpahkan seluruh isi langit. Pak Fito masuk ke rumah dinasnya untuk beristirahat. Ketika melihat banyak  tetesan air dari atas atap rumah, ia mengembuskan napas ringan. Ia keluar rumah untuk menenangkan diri sejenak. Dari kejauhan ia melihat seorang anak laki-laki berdiri di bawah pohon karet, memeluk tas plastiknya agar buku-bukunya tidak basah. Ia adalah Bimo, salah satu muridnya.

Bimo adalah murid kelas delapan yang paling pendiam. Jarang bicara, tapi matanya selalu mengikuti kemanapun Pak Fito bergerak di depan kelas. Pak Fito memanggil Bimo.

"Pak," katanya tiba-tiba setelah lama terdiam. "Apakah benar di Jambi, anak-anak bisa melihat lampu kota setiap malam?"

Pak Fito tersenyum getir. "Iya, Bimo. Di sana terang sekali."

"Saya ingin ke sana, Pak. Saya ingin sekolah tinggi supaya bisa bawa lampu itu ke Bagan Asam. Tapi, Bapak saya bilang, orang seperti kami cukup sampai SMP saja, lalu masuk ke kebun sawit."

Mendengar itu, ada sesuatu yang patah di dalam hati Pak Fito. Bimo bukan kurang pintar ia hanya kurang beruntung dalam urusan letak geografis. Ia adalah korban dari narasi sempit bahwa anak pedalaman tidak perlu bermimpi tinggi karena mimpi butuh ongkos, dan mereka tidak punya itu.

Malam itu, Pak Fito tidak bisa tidur. Bayangan wajah Bimo yang kusam, tapi penuh harap terus menghantui. Sebagai pemuda Jambi yang aktif dalam pengabdian masyarakat, ia merasa berdosa jika hanya datang ke sini untuk menggugurkan kewajiban mengajar dari jam tujuh pagi hingga jam satu siang. Ia harus berbuat lebih.

Rumah dinas yang ia tempati sebenarnya cukup luas, tetapi terasa dingin dan hampa. Mengingat pengalamannya dalam gerakan sosial, ia memutuskan untuk merombak ruang tamu dan teras rumah dinasnya. Ia ingin menciptakan sebuah oase di tengah gurun literasi ini. Dengan modal tabungan pribadi dan bantuan kiriman buku dari rekan-rekan relawan di Jambi, ia mulai menyusun rak-rak kayu dari papan bekas. Ia menamakan tempat ini Rumah Belajar Bale Ranah Ilmu RKPS.

"Bale" berarti tempat bernaung, "Ranah Ilmu" adalah doa agar tempat ini menjadi tanah subur bagi pengetahuan, dan "RKPS" (Rumah Kreatif Pemuda Siginjai) adalah payung perjuangannya.

Awalnya, anak-anak datang dengan ragu. Mereka berdiri di depan pintu, melihat lantai rumah dinas yang bersih. "Boleh masuk, Pak? Kami tidak pakai sepatu," tanya mereka. "Masuklah. Di sini, siapa pun yang ingin tahu, dia adalah raja," jawab Pak Fito.

Dalam hitungan minggu, Bale Ranah Ilmu menjadi pusat gravitasi baru di Desa Bagan Asam. Sore hari tidak lagi diisi dengan melamun di pinggir sungai. Rumah dinas riuh oleh suara anak-anak yang belajar membaca, menulis puisi, hingga berdiskusi tentang peta dunia. Pak Fito mengajari mereka kreativitas dan seni melalui barang barang dan SDA yang ada di sana, menceritakan sejarah pahlawan lewat dongeng, dan yang paling penting, mengajari mereka cara bermimpi.

Bimo adalah pengunjung paling setia. Di Bale Ranah Ilmu, ia tidak lagi hanya mengeja kata. Ia mulai menulis cerpen tentang keindahan hutan Kalimantan. Ia tidak lagi takut bicara tentang lampu kota karena kini ia tahu bahwa cahaya yang paling terang berasal dari kepala dan hatinya sendiri.

Pengabdian di daerah 3T bukan hanya soal mentransfer ilmu di dalam kelas, tapi tentang bagaimana cara "meluruh" ke dalam masyarakat. Sebagai orang asing dari Sumatra, Pak Fito harus memenangkan hati para orang tua siswa yang awalnya skeptis terhadap kehadirannya.

Ia mulai mengikuti ritual adat, duduk melingkar bersama para tetua desa saat acara Gawai, dan belajar mengunyah sirih meskipun lidahnya kelu. Ia belajar bahwa untuk mengubah mindset masyarakat tentang pendidikan, ia harus terlebih dahulu menjadi bagian dari keluarga mereka.

Suatu hari, seorang wali murid datang ke Bale Ranah Ilmu membawa seikat rotan dan beberapa butir telur ayam kampung. "Pak Fitrian," katanya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, "Terima kasih sudah menjaga anak saya. Sejak belajar di sini, dia jadi rajin membantu di rumah dan selalu cerita tentang buku yang dia baca."

Pada momen itu, Pak Fito menyadari bahwa keberhasilan seorang guru di pedalaman tidak diukur dari nilai ujian nasional, melainkan dari sejauh mana kehadirannya mampu memberikan martabat baru bagi mereka. Ia bukan lagi sekadar "Pak Guru dari Jambi", melainkan bagian dari Bagan Asam.

Waktu berlalu seperti arus sungai Kapuas yang tenang tapi pasti. Tinggal di daerah dengan sarana terbatas telah mengikis kesombongan intelektual Pak Fito. Di Jambi, ia mungkin merasa hebat karena bisa menggerakkan massa. Namun, di Bagan Asam, ia belajar bahwa keberanian sejati adalah bertahan di tengah kesunyian, tetap menyalakan lilin literasi meski angin keterbatasan berembus kencang.

Mengajar di SMPN 3 Satu Atap Toba adalah pelajaran tentang syukur yang ekstrem. Ia bersyukur atas listrik yang hanya menyala beberapa jam, yang membuat ia menghargai cahaya. Ia bersyukur atas ketiadaan sinyal, yang membuat mereka benar-benar berbicara satu sama lain, mata ke mata, jiwa ke jiwa.

Kreativitas bukan lagi pilihan, tapi napas. Ketika buku teks tidak cukup, ia menulis sejarah kami sendiri. Ketika alat peraga tidak ada, semesta adalah laboratorium kami. Pak Fito melihat anak-anak yang tadinya minder, kini berani menatap masa depan dengan dagu tegak.

Cerita  adalah sebuah refleksi bagi Pak Fito dan siapa saja yang sedang atau akan melangkah di jalan pengabdian. Daerah 3T bukanlah tempat untuk "membuang diri", melainkan tempat untuk "menemukan diri".











Sumber Gambar: Fitrian Widianto

Pak Fito dalam cerita ini adalah saya. Saya berpesan kepada rekan-rekan pemuda di Jambi dan Kalimantan seluruh pelosok negeri. Jangan pernah takut untuk menginjakkan kaki di tanah-tanah sunyi Indonesia. Di balik jalanan lumpur Sanggau, di balik pekatnya hutan Kecamatan Toba, ada permata-permata yang hanya butuh sedikit gosokan untuk bersinar.

Harapan saya untuk SMPN 3 Satu Atap Toba dan Bale Ranah Ilmu sangatlah sederhana. Saya ingin tempat ini tetap ada meski kelak saya harus melangkah ke tempat pengabdian lain. Saya ingin Bimo dan teman-temannya membuktikan bahwa lahir di Bagan Asam bukanlah kutukan, melainkan sebuah kekuatan untuk membangun Indonesia dari akar. Pendidikan adalah satu-satunya senjata yang bisa diberikan kepada mereka untuk meruntuhkan tembok kemiskinan. Dan guru adalah pemegang obornya.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Sanggau, menyisakan warna jingga yang membakar langit. Di teras Bale Ranah Ilmu, anak-anak mulai merapikan buku mereka. Bimo mendekati Pak Fito, menyalami tangannya dengan takzim, lalu berkata, "Pak, besok ajari kami tentang Pengelolaan limbah  lagi, ya?"

Pak Fito mengangguk, tersenyum. Ya, besok kita akan belajar tentang karya, usaha dan beragam inovasi lainya agar kalian bisa mengembangkan cita cita kalian. Kalian harus semangat dan pantang menyerah. Bagaimana cara menangkalnya meski kaki kita masih terbenam di dalam lumpur Bagan Asam. Kata Pak Fito lagi. 

signal_cellular_alt dilihat: 495 x