Kanvas Abu-Abu dan Suara Rombong Ayam
Bagi sebagian orang, masa depan adalah sebuah kanvas kosong yang siap dilukis dengan warna-warna paling benderang. Namun, dalam ingatan masa kecil saya, kanvas itu terasa kusam, abu-abu, dan nyaris kehilangan cahayanya. Saya tumbuh di bawah atap yang sederhana, di mana aroma perjuangan tercium setiap pagi bersamaan dengan suara riuh dari rombong ayam milik Bapak.
Gambar 1. Sosok Ayah saat Bekerja
Sumber: Foto Pribadi
Bapak adalah seorang bakul ayam keliling. Penghasilannya tidak pernah pasti, namun keringatnya adalah kepastian yang menghidupi kami. Setiap hari, suara ayam dari balik rombongnya adalah melodi perjuangan yang mengingatkan saya bahwa untuk sesuap nasi, ada harga yang harus dibayar dengan kerja keras yang luar biasa. Di mata saya kala itu, definisi sukses sangatlah sederhana: tidak menjadi beban bagi orang tua.
Saat teman-teman SMA saya asyik dengan gawai terbaru mereka, saya hanya menggenggam sebuah telepon genggam pemberian saudara. Tidak ada rasa iri, yang ada hanyalah kesadaran diri yang mendalam. Berkuliah? Kata itu mulanya hanya sebuah kemewahan yang tak berani saya selipkan dalam doa-doa malam. Rasanya terlalu mahal untuk diimpikan oleh anak seorang penjual ayam. Saya tahu orang tua saya akan mendukung apapun, namun bibir ini kelu untuk berucap ingin lanjut kuliah. Ada rasa malu yang mencekat, rasa tidak tega membayangkan Bapak harus memacu sepeda motornya lebih jauh lagi demi biaya semesteran saya.
Ketidakmungkinan itu semakin nyata saat saya melihat peta. Di daerah tempat tinggal saya, tidak ada universitas negeri. Melanjutkan pendidikan berarti harus merantau ke Ibu Kota Provinsi, membayar kos, dan menghadapi biaya hidup yang tentu akan membuat kedua orang tua saya semakin bekerja keras lagi, sementara saya tahu pasti bahwa penghasilanya cukup untuk makan dan keperluan dapur saja. Jahat rasanya jika saya egois dan memaksa keadaan. Saya seringkali terdiam seribu bahasa dalam diskusi keluarga, menyimpan rapat-rapat keinginan itu di sudut hati yang paling dalam. Terkadang cerita singkat hanya mampu saya sampaikan kepada saudara perempuan saya, ya meskipun ia sudah bisa dikategorikan mapan kala itu. Tapi rasa-rasanya akan menjadi beban, terlebih saudara saya juga telah berumah tangga. Namun, di saat saya nyaris menyerah pada keadaan, Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah sebaik-baiknya perancang skenario.
Melalui perantara seorang guru BK, saya mengenal beasiswa Bidikmisi (KIP Kuliah). Informasi itu bagaikan secercah cahaya di lorong gelap, meski tetap diikuti oleh keraguan yang hebat: “Apakah saya bisa? Jadi apa saya nanti?” Di tengah kegalauan itu, Mamak sosok perempuan yang tangannya kasar oleh kerja ladang namun hatinya selembut sutra berbisik pelan, "Perempuan itu sepertinya cocok menjadi guru, Nak. Mamak ingin sekali punya anak yang bisa berdiri di depan kelas, di ruangan yang tak panas terik matahari, serta menggunakan seragam rapi."
Gambar 2. Prosesi Perpisahan SMA
Sumber: Foto Pribadi
Nasihat itu menjadi kemudi hidup saya. Dengan restu Mamak dan keberanian yang dipaksakan, saya memilih Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Pada tahun 2018, melalui jalur SBMPTN, takdir menjemput saya. Saya dinyatakan lolos di satu-satunya Universitas Negeri di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur. Itulah momen pertama saya menyadari bahwa ketika kita berani melangkah, Tuhan akan membukakan jalan yang tak terduga.
Medan Tempur Batin dan Kemenangan di Atas Podium
Memasuki gerbang perkuliahan ternyata bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari medan tempur yang sesungguhnya. Di ruang kelas yang berisi banyak kepala dengan berbagai karakteristik dan latar belakang itu, membuat saya seringkali merasa minder. Saya merasa seperti potongan puzzle yang dipaksa masuk ke tempat yang salah. Namun, keterbatasan finansial justru menjadi cambuk yang paling tajam.
Gambar 3. Kegiatan PKKMB Universitas
Sumber: Foto HIMA PGSD
Saya menjalani hidup yang "berdarah-darah" di kota orang. Pagi saya mengenakan kemeja rapi untuk kuliah, namun siang hingga larut malam, saya berganti jaket menjadi kurir, pengemudi ojek online, hingga guru les privat ya tak lupa dengan bekal jas hujan yang sering kali harus kehujanan di kala berjuang. Aspal jalanan Samarinda menjadi saksi bisu bagaimana saya bertarung dengan rasa lelah dan kantuk. Ada saat-saat dimana saya menangis di balik helm, bukan karena ingin menyerah, tapi karena takjub betapa Allah menjaga seorang anak penjual ayam di tengah kerasnya ibu kota. Bukan-bukan tak ada yang peduli, saya pun mensyukuri saudara saya sering kali bahkan rutin membantu biaya tempat tinggal saya. Orang tua saya pun juga rutin, namun saya tak pernah meminta lebih. Namun kehidupan tak sebatas itu bukan. Belum berbagai macam tugas yang datang dengan biaya yang tak jua sedikit, saya selalu mencukupkan segalanya agar tak menjadi beban pikiran kedua orang tua dirumah.
Gambar 4. Yudisium Kelulusan S1 bersama Ibu dan Keponakan
Sumber: Foto Pribadi
Ajaibnya, kerja keras memang tidak pernah mengkhianati hasil. Pada tahun 2022, saya berhasil menyelesaikan studi perkuliahan sarjana saya dalam kurun waktu 3 tahun 2 bulan. Tidak hanya itu, saya mendapatkan kesempatan berdiri di atas podium sebagai Lulusan Terbaik 1 se-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Gelombang 1. Di hadapan ribuan orang, saya berkata dengan suara bergetar: "Saya belajar bahwa saya tidak pantas takut gagal. Jikalaupun saya terjatuh seribu kali, maka saya akan bangkit beribu-ribu kali." Inilah yang hingga kini menjadi motivasi kehidupan saya, tak lupa terus terbawa.
Namun, euforia itu segera berbenturan dengan realita. Gelar sarjana dan lulusan terbaik sekalipun tidak serta merta membuat jalan menjadi mulus. Saya mencicipi getirnya menjadi guru honorer dengan gaji 500 ribu rupiah sebulan, berkali-kali jatuh dari kendaraan karena jarak sekolah dan kos yang cukup jauh dan penuh kemacetan ibu kota. Perjuangan itu membuat saya pada akhirnya mundur dari kehidupan ibu kota dan memilih pulang ke kampung halaman. Pulang dengan harapan mari mengabdikan diri dikampung sendiri. Namun saya seribu sayang berkali-kali lamaran diri tertolak, sempat terpanggil namun gagal ya terkalahkan dengan relasi tembok "orang dalam". Terasa begitu tinggi untuk dipanjat oleh seseorang yang hanya memiliki ijazah dan idealisme. Di titik terendah itu, Tuhan kembali mengulurkan tangan-Nya melalui PPG Prajabatan.
Satu tahun menjalani Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan terasa seperti mendaki gunung yang tak kunjung usai. Siang kami habiskan untuk praktik di lapangan, dan malam kami tenggelam dalam tumpukan teori serta tugas yang seolah tidak ada habisnya. Jika dulu saya mengira kuliah sarjana adalah titik tersulit, saya salah besar. Menjadi seorang pendidik profesional menuntut lebih dari sekadar kecerdasan; ia menuntut ketangguhan mental dan manajemen waktu yang nyaris mustahil. Di balik lelahnya raga, muncul sebuah kesadaran: ternyata, "Sertifikat Pendidik" bukan sekadar kertas, melainkan bukti perjuangan berdarah-darah untuk layak disebut seorang guru.
Namun, saya tidak sendiri. Di sebuah asrama sederhana di Samarinda, saya memiliki "keluarga" baru. Kami adalah anak-anak dari Berau yang datang dengan mimpi yang sama. Kami berbagi tawa di tengah kantuk, berbagi mie instan di tengah tugas yang menumpuk, dan saling menguatkan saat salah satu dari kami hampir menyerah. "Kita berangkat sama-sama, kita pulang jadi guru sama-sama," itulah janji kami.
Setelah menyelesaikan sederet ujian persyaratan kelulusan PPG saya kembali ke Berau dan di sana, di sekolah tempat saya PPL dulu telah membukakan pintu lebar-lebar. Saya diminta untuk membantu sebagai tenaga honorer di sekolah itu, sungguh dalam hati betapa bahagianya mendapat sekolah yang nyaman di tengah kota, gaji saya pun mulai merangkak naik dari ratusan ribu hingga mencapai tiga juta rupiah setelah masuk Dapodik. Keluarga tersenyum bangga melihat saya dekat dengan mereka. Segalanya tampak sempurna. Hingga akhirnya, surat penempatan itu datang. Ya, surat keputusan hasil Seleksi ASN PPPK Tahun 2023. Dimana nama saya tercantum di sebuah sekolah yang berada di tengah-tengah hamparan hijau dalam peta, tak banyak rumah-rumah terpantau dalamnya. Sebuah desa pelosok, jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari pelukan keluarga.
Gambar 7. Foto Kegiatan P5 di SDN 002 Tanjung Redeb
Sumber: Foto Pribadi
Dunia seolah menentang. Sahabat, kerabat, bahkan orang tua mempertanyakan keputusan saya. "Mengapa harus pergi ke tempat sejauh itu jika di sini sudah ada kenyamanan?" tanya mereka.
Di tengah kebimbangan, saya merenung. Sejak SD hingga saya meraih gelar profesi, setiap rupiah yang membiayai pendidikan saya berasal dari negara. Saya dididik oleh keringat rakyat. Jika sekarang saya menolak untuk ditempatkan di tempat yang paling membutuhkan, lantas untuk apa gelar "profesional" ini saya sandang?
Saya akhirnya menetapkan hati. Saya memilih untuk melangkah pergi dari zona nyaman, meninggalkan riuh kota menuju sunyi pelosok desa. Ini bukan sekadar tentang pekerjaan; ini adalah bentuk pembayaran utang budi saya kepada negara. Saya memilih untuk menjadi cahaya di tempat yang paling gelap. Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas yang nyaman, tapi tentang pengabdian di mana pun Ibu Pertiwi memanggil.
Program ini menjadi "jalan tol" yang mengantarkan saya menjadi ASN PPPK di usia 23 tahun. Sebuah pencapaian yang terasa seperti mimpi, namun datang dengan satu syarat: penempatan di pelosok Kutai Timur.
Menyeberangi Lautan, Menemukan Luka di Ruang Kelas
Perjalanan menuju lokasi penempatan adalah ujian nyali yang sesungguhnya. Saya harus menempuh 12 jam perjalanan darat menggunakan mobil travel, disambung dengan 5 jam bermotor menembus belantara hutan sendirian. Saya tiba di sebuah desa yang asing, di mana sejauh mata memandang sepanjang jalan tiba di sini hanyalah hamparan hijau kelapa sawit dan debu tambang batu bara.
Gambar 8. Perjalanan menuju sekolah induk
Sumber: TIM Dokumentasi Direktorat PPG
Sekolah saya adalah sebuah sekolah cabang (filial), sementara sekolah induknya berada di Pulau Miang. Untuk sekadar rapat dewan guru, saya harus mempertaruhkan nyawa menyeberangi lautan selama 20 menit menggunakan kapal kayu kecil bermesin genset. Setiap guncangan ombak yang menghantam lambung kapal terasa seperti detak jantung yang berhenti sesaat. Saya, seorang perantau Jawa, terjebak dalam kesunyian budaya yang asing. Di lingkungan mayoritas berasal dari tanah Sulawesi. Selain itu penduduk sekitar didominasi pekerja sawit laki-laki, saya sempat menarik diri, menjaga jarak karena rasa takut dan waspada yang melelahkan.
Namun, segala rasa sepi dan takut itu menguap saat saya pertama kali melangkah ke dalam kelas. Di sana, saya menemukan sebuah kenyataan yang jauh lebih pedih daripada guncangan kapal kayu dan menjadi minoritas. Saya menemukan "luka" di mata anak-anak saya.
Banyak siswa di kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6) yang ternyata belum bisa membaca. Melihat mereka mengeja huruf dengan terbata-bata, atau menatap buku dengan pandangan kosong dan penuh rasa rendah diri, menghancurkan hati saya. Di mata mereka, saya melihat bayangan diri saya yang dulu anak yang merasa tidak punya masa depan karena keadaan. Mereka merasa bodoh, mereka merasa tertinggal, dan mereka berhenti bermimpi.
Saat itulah saya sadar: saya tidak dikirim kesini hanya untuk mengajar. Saya dikirim untuk menyembuhkan harapan mereka. Berbekal ilmu dari PPG dan ketangguhan yang saya pelajari dari jalanan, saya memulai misi literasi dari nol. Tanpa proyektor, tanpa internet yang stabil, dan dengan fasilitas seadanya, saya mengajar mereka membaca layaknya anak kelas rendah. Saya memeluk mereka dengan kata-kata setiap hari: "Kalian bukan tidak bisa, kalian hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk bersinar."
Saat Aksara Menjadi Sayap dan Pintu Langit Terbuka
Perjuangan yang dilakukan dengan hati tidak akan pernah sia-sia. Perlahan, anak-anak yang dulunya menunduk malu mulai berani mengangkat tangan. Puncaknya, muncul sebuah keberanian besar di sekolah pelosok kami. Kami memutuskan untuk mengirimkan 20 siswa mengikuti program menulis literasi nasional.
Awalnya, keraguan itu masih ada. "Bu, apakah tulisan kami yang dari pelosok ini layak dibaca orang kota?" tanya salah satu murid dengan suara lirih. Saya menatap matanya dalam-dalam dan berkata, "Rasa sakit, kesunyian, dan keindahan pelosok yang kalian rasakan adalah bumbu tulisan yang paling mahal di dunia."
Dan keajaiban pun terjadi. Murid-murid yang dulunya bahkan kesulitan mengeja, berhasil menciptakan sebuah karya nyata: Buku Antologi Puisi. Mereka bukan lagi sekadar anak-anak di ujung Kalimantan yang terlupakan. Mereka adalah penulis yang karyanya tercatat secara nasional. Melihat nama-nama mereka tercetak adalah bayaran paling setimpal dari setiap peluh dan air mata yang saya tumpahkan di perjalanan panjang di tempat ini.
Gambar 9. Pembagian Karya Antologi Puisi FLKT
Sumber: Foto Pribadi
Keikhlasan mengabdi di ujung jalan ini ternyata mengetuk pintu langit. Tuhan membawa saya "terbang" jauh. Saya mendapatkan undangan Hari Guru Nasional di Jakarta selama tiga tahun berturut-turut (2023-2025). Pencapaian ini tidak lepas dari peran seorang sahabat, sosok motivator yang meyakinkan saya bahwa guru pelosok tidak boleh dipandang sebelah mata. Beliau mendorong saya untuk mulai berbagi lewat konten positif dan mengikuti berbagai ajang nasional.
Penutup dan Harapan
Kini, memasuki tahun kedua pengabdian, duka telah sepenuhnya bermetamorfosis menjadi suka. Jika hari ini seseorang bertanya apakah saya menyesal menjadi guru, jawaban saya akan tetap sama: "Tidak sama sekali." Melihat binar mata siswa-siswi saya yang kini berani bermimpi adalah alasan saya untuk tetap berdiri tegak. Jika saya egois dan memilih mundur, bagaimana nasib anak-anak yang baru saja mulai mencintai buku ini?
Gambar 10. Mendampingi siswa dalam lomba 17 Agustus
Sumber: Foto Pribadi
Perjalanan ini telah mengajarkan saya bahwa pengabdian bukan tentang seberapa besar nominal yang masuk ke rekening, melainkan seberapa besar dampak yang kita tinggalkan di hati manusia lainnya. Doa saya hanya satu. Semoga negara ini semakin membuka mata dan hati bagi guru-guru di garis depan. Mereka rela meninggalkan kenyamanan demi menjaga nyala api peradaban bangsa.
Kepada rekan-rekan guru di seluruh penjuru negeri, jangan pernah menyerah. Jika seorang anak penjual ayam keliling bisa berdiri di Jakarta dan membawa anak-anak pelosok menerbitkan buku, maka percayalah. Tidak ada yang mustahil bagi kita jika kita mengabdi dengan hati.
Salam hangat dari ujung timur Kalimantan Timur. Teruslah mengabdi, karena di tangan kitalah masa depan bangsa ini dititipkan.