Lahir dalam Ketidakutuhan Keluarga
Namaku Syahrul Amri, biasa dipanggil Syahrul atau Wawan. Aku berasal dari Kelurahan Cellu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sejak lahir aku tidak tumbuh dalam keluarga yang utuh; ayah dan ibuku telah berpisah bahkan sebelum aku dilahirkan. Aku pun tidak pernah merasakan hidup dalam satu rumah bersama kedua orang tua.
Aku dibesarkan oleh ibuku seorang diri. Demi mencukupi kebutuhan hidup kami, ia bekerja tanpa kenal lelah—menjaga warung kecil, menjual galon air, hingga berjualan di kantin sekolah. Pagi hingga sore ia bekerja, namun malam hari ia tetap berusaha hadir untukku. Ia hampir tak pernah mengeluh. Setiap tetes keringatnya adalah wujud cinta yang ia tunjukkan melalui tindakan.
Meski sering sakit dan harus keluar-masuk rumah sakit, ibuku tetap bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin aku merasa terbebani oleh penderitaannya. Bagiku, ibuku adalah segalanya—rumah tempatku pulang, tempatku berlindung, dan tempat pertama aku belajar tentang ketulusan dan pengorbanan.
Namun kebahagiaan sederhana itu tidak berlangsung lama. Saat aku masih duduk di bangku SMP, ibuku meninggal dunia tepat di hadapanku. Saat itu dunia terasa runtuh. Aku kehilangan satu-satunya tempat bersandar dan merasa aman. Sejak hari itu, hidupku berubah. Aku mulai belajar tentang kehilangan, kesendirian, dan bagaimana bertahan ketika satu-satunya rumah yang kita miliki telah tiada.
Kehilangan Makna Rumah
Sejak kepergian ibuku, hidupku terasa seperti rangkaian perpisahan yang tak pernah benar-benar usai. Kehilangan satu-satunya sosok yang menjadi rumah bagiku membuat dunia terasa asing dan sunyi. Ayahku sempat mengajakku tinggal bersamanya, namun aku memilih tetap di Sulawesi karena belum siap meninggalkan tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang ibuku.
Keputusan itu membuatku hidup berpindah-pindah dari satu rumah kerabat ke rumah kerabat lainnya. Setiap tempat hanyalah persinggahan, bukan tujuan pulang. Aku belajar menyesuaikan diri, menahan perasaan, dan tidak terlalu berharap. Perlahan, kata rumah kehilangan maknanya sejak ibuku tiada.
Dalam perpindahan itu, aku belajar hidup dalam kesendirian. Kesendirian menjadi ruang sunyi untuk berdialog dengan diri sendiri, memendam rindu, sekaligus menata kembali harapan yang sempat runtuh. Dari sanalah aku mulai belajar menjadi kuat—tetap melangkah meski sering merasa berjalan tanpa sandaran.
Menemukan Diri melalui Pendidikan dan Organisasi
Aku melanjutkan pendidikan di MAN 2 Bone. Masa SMA menjadi fase penting dalam perjalanan hidupku karena di sanalah aku mulai belajar berdamai dengan diri sendiri. Setelah kehilangan ibu dan hidup berpindah-pindah, sekolah menjadi satu-satunya ruang yang memberiku rasa stabil serta tempat menyalurkan energi, emosi, dan kegelisahan yang selama ini terpendam.
Aku aktif dalam organisasi Palang Merah Remaja (PMR). Melalui kegiatan kemanusiaan di sana, aku belajar tentang kerja sama, empati, dan kepedulian terhadap sesama. PMR juga memberiku rasa memiliki—seperti keluarga kecil yang membuatku merasa diterima dan dihargai.
Dari pengalaman itu, aku mulai menyadari dorongan untuk memimpin. Bagiku, kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan keberanian mengambil tanggung jawab dan berdiri di depan ketika keadaan tidak mudah. Kepercayaan itu membawaku menjadi ketua organisasi hingga lulus pada tahun 2018.
Meski begitu, saat itu aku belum memiliki gambaran jelas tentang masa depan. Aku bahkan belum pernah membayangkan menjadi seorang guru. Setelah lulus sekolah, aku berada di persimpangan dan diliputi kebingungan. Namun dari fase itulah aku belajar bahwa tidak semua orang harus mengetahui arah hidupnya sejak awal. Terkadang, kita hanya perlu berani melangkah terlebih dahulu sebelum akhirnya memahami ke mana perjalanan hidup akan membawa kita.
Keberanian Pertama: Merantau untuk Kuliah
Di tengah kebingungan tentang masa depan, ayahku tetap menunjukkan tanggung jawabnya dengan mendukung pendidikanku. Atas saran dan pembiayaannya, aku memutuskan melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar. Tahun 2018 menjadi awal keberanian itu. Aku berangkat merantau seorang diri—tanpa diantar siapa pun, hanya berbekal tas sederhana dan tekad untuk mencoba bertahan.
Aku tinggal di Pesantren Mahasiswa K.H. Djamaluddin Amien, sebuah asrama dengan aturan disiplin yang awalnya hanya diperuntukkan bagi mahasiswa baru selama satu tahun. Di sana aku belajar beradaptasi dengan kehidupan yang teratur, tuntutan akademik, serta pembinaan spiritual. Meski sering diliputi rasa lelah dan rindu, perlahan aku mulai menemukan ritme hidupku.
Setelah satu tahun, aku terpilih sebagai mahasiswa terbaik asrama dan dipercaya menjadi mudabbir, mendampingi mahasiswa kedokteran dan pendidikan ulama tarjih. Kepercayaan itu mengajarkanku tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Aku kemudian tinggal di asrama lebih dari lima tahun, aktif dalam berbagai organisasi, termasuk menjadi Ketua Mahasantri SAAS (2019–2020), tim IT asrama, serta Ketua Koordinator Umum Asisten Laboratorium PGSD (2021–2022). Di sela kesibukan, aku juga mengikuti lomba videografi tingkat nasional dan lomba panahan tingkat kabupaten.
Menjelang akhir studi, pertanyaan tentang masa depan kembali muncul. Aku kemudian mendaftar PPG Prajabatan dan diterima di Universitas Negeri Makassar. Masa PPG menjadi fase yang sangat melelahkan: pagi hingga sore kuliah, malam hari bekerja di asrama, dan sesekali mengambil pekerjaan sampingan sebagai fotografer prewedding maupun wisuda. Dari proses itu aku belajar bahwa perjuangan sering menuntut pengorbanan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Setelah satu tahun penuh perjuangan, Tuhan kembali menunjukkan jalannya. Aku dinyatakan lulus dan diangkat menjadi ASN PPPK di usia 23 tahun bahkan sebelum sempat merasakan kerasnya dunia honorer. Sebuah pencapaian besar yang seharusnya dirayakan dengan sukacita, namun sekali lagi harus kubayar dengan perpisahan. Setiap keberhasilan dalam hidupku seolah selalu datang bersama jarak, meninggalkan orang-orang dan tempat yang telah membentuk diriku.
Di Ujung Pelosok Kalimantan Timur
Aku ditempatkan di Kalimantan Timur, tepatnya di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Kutai Timur. Pada awalnya, penempatan ini kupeluk dengan harapan besar. Aku membayangkan akhirnya bisa lebih dekat dengan keluarga baruku ayah, adik-adik, dan ibu sambungku keluarga yang lama kurindukan sejak kehilangan ibuku. Aku ingin merasakan kembali hangatnya kebersamaan yang selama ini terasa asing dalam hidupku.
Namun harapan itu kembali diuji oleh kenyataan. Jarak sekali lagi menjadi tembok yang memisahkan kami. Aku kembali harus menerima bahwa kebersamaan bukan sesuatu yang mudah kudapatkan. Kesepian, yang kupikir telah kutinggalkan di masa lalu, kembali menjadi teman setiaku di tanah rantau ini.
Untuk mencapai sekolah tempatku mengajar, aku harus berpisah dengan rumah ayahku yang jarak perjalan kurang lebih 5 jam. Bukan hanya sampai disitu, aku harus menyeberangi laut selama kurang lebih 20 menit menggunakan perahu kecil. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai motor sekitar 10 menit menyusuri jalan tanah yang diapit pepohonan rimbun. Daerah ini masih sangat alami. Alamnya seakan belum tersentuh oleh hiruk-pikuk peradaban.
Menjadi Guru di Tengah Keterbatasan
Aku dipercaya mengajar di kelas 1 SD kelas yang sebelumnya tidak memiliki guru tetap. Anak-anak itu menyambutku dengan mata penuh rasa ingin tahu. Banyak di antara mereka belum bisa membaca, belum mengenal huruf dengan baik, bahkan belum terbiasa memegang buku. Di hadapanku berdiri masa depan yang rapuh namun penuh harapan.
Fasilitas sekolah sangat terbatas. Bangunan sekolah sudah tua, sarana dan prasarana minim, dan listrik hanya menyala pada malam hari jam 6-10 malam. Di siang hari, kami mengandalkan cahaya matahari yang menembus celah-celah jendela. Namun di balik segala keterbatasan itu, aku menemukan sesuatu yang tidak ternilai: semangat belajar yang tulus dan keinginan anak-anak untuk maju.
Di sanalah aku belajar bahwa menjadi guru bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang keberanian bertahan dan memberi arti. Aku menanamkan dalam diriku satu tekad: sekolah ini harus dikenal, anak-anak ini harus percaya bahwa mereka juga mampu bermimpi setinggi siapa pun.
Bersama rekan-rekan guru, aku mulai melangkah pelan namun pasti. aku membangun media sosial sekolah sebagai jendela kecil agar dunia luar dapat melihat perjuangan kami. Kami melatih siswa mengikuti berbagai perlombaan, memberi mereka pengalaman tampil dan percaya diri. Setiap usaha sekecil apa pun kami hargai, setiap kemajuan kami rayakan.
Perlahan, hasil itu mulai terlihat. Anak-anak yang dulu pemalu mulai berani tampil. Sekolah kami meraih berbagai prestasi, menjadi Juara Umum Pramuka Tingkat Kecamatan, dan bahkan memiliki drumband satu-satunya di Kecamatan Sangkulirang. Prestasi itu bukan sekadar piala, melainkan bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
Di tempat terpencil ini, aku menemukan makna baru tentang hidup, tentang pengabdian, dan tentang diriku sendiri. Kesendirian yang dulu kuratapi, kini justru membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bersyukur.
Keberanian untuk Tetap Melangkah
Kini, aku menyadari bahwa kesendirian bukanlah kelemahan. Justru dari kesendirian aku belajar berdiri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Kesendirian membentuk ketangguhanku sebagai manusia dan sebagai guru. Ketika aku menoleh ke belakang, aku memahami bahwa perpisahan adalah gerbang, bukan akhir. Ia memaksaku keluar dari zona nyaman dan mempertemukanku dengan diriku yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih mengenal arti harapan. Ini adalah tahun ketigaku mengabdi sebagai guru di pelosok Kalimantan Timur.
Perjalanan merantau bukan tentang seberapa jauh aku melangkah dari rumah, melainkan seberapa dalam aku mengenal diriku sendiri. Dari semua perjalanan ini, aku belajar satu hal penting: keberanian sejati bukanlah lahir ketika kita merasa siap, melainkan ketika kita memilih tetap melangkah maju meski hati masih gemetar.