Sejak kuliah di Universitas Negeri Manado, saya sudah lama menyimpan satu keinginan. Keinginan yang tidak pernah benar-benar pergi dari kepalaku. Keinginan tersebut adalah tentang mengabdi di daerah pedalaman. Keinginan itu tidak lahir dari rencana besar. Ia tumbuh pelan-pelan, hampir tanpa suara, dari cerita-cerita kecil yang saya dengar. Cerita, tentang pendidikan anak-anak yang tertinggal jauh dari hiruk-pikuk kota.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri. Jika suatu hari aku diberi kesempatan, maukah aku benar-benar pergi? Pertanyaan itu terus tinggal. Bahkan, setelah aku menyelesaikan kuliah, pertanyaan itu masih ada. Namun, hidup tidak selalu bergerak secepat keinginan. Setelah lulus kuliah, saya belum juga mendapatkan kesempatan untuk mengabdi di daerah pedalaman. Pada suatu hari saya mendengar tentang Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan. Tanpa banyak pertimbangan, saya mendaftar. Dalam doaku saat itu, saya tidak meminta tempat yang nyaman atau dekat rumah. Saya hanya meminta jalan.
Tahun 2023 menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya dinyatakan lulus sebagai mahasiswa PPG Prajabatan atau yang saat ini disebut PPG Calon Guru. Rasanya seperti sebuah pintu kecil yang akhirnya terbuka. Dalam proses pelaksanaan PPG, kami diberi pembekalan berbagai materi, salah satunya yang menarik adalah pembelajaran berdiferensiasi. Saya belajar bagaimana cara menyampaikan metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan. Saya memiliki bekal cukup untuk mengajar di mana pun.
Setelah lulus PPG, kami diberi kesempatan mendaftar sebagai ASN PPPK Guru. Saya kembali melangkah, kali ini dengan keyakinan yang lebih besar bahwa setiap proses yang saya lewati tidaklah kebetulan. Keinginan saya ketika lulus berubah. Saya ingin kembali ke tanah kelahiran. Mengajar di tanah sendiri terasa seperti pulang. Menyatu kembali dengan akar. Saya membayangkan bisa dekat dengan keluarga. Mengabdi tanpa harus benar-benar meninggalkan rumah. Namun, kenyataan berkata lain. Kuota guru di kota asalku sudah penuh. Lalu muncul sebuah nama yang sama sekali asing, Kampung Dubu, Kabupaten Keerom, Papua.
Dalam masa menunggu Surat Keputusan PPPK, pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan. Saya membayangkan hidup tanpa listrik, tanpa jaringan, jauh dari keluarga. Saya membayangkan malam-malam sunyi, kesepian, dan lelah. Alasan-alasan itu terdengar masuk akal. Sangat manusiawi. Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus kembali. Bukankah ini hasil dari doaku?
Pada setiap hari Minggu, saya mencoba mencari jawaban dalam doa dan perenungan firman. Saya belajar satu hal penting. Sering kali manusia ingin menerima panggilan Tuhan, tetapi hanya jika panggilan itu sesuai dengan kenyamanan mereka. Panggilan tidak selalu datang dengan rasa aman. Saya memegang satu janji dalam hati. Jika Tuhan menempatkan saya di Kampung Dubu, Tuhan juga akan memeliharaku di sana. Saya percaya saya tidak dibawa sejauh ini untuk gagal. Dengan keyakinan itu, saya berhenti menawar. Saya memilih berangkat.
Setelah menerima SK, saya berkunjung ke kepala sekolah di tempat tugas. Beliau memperkenal kami pada realitas Kampung Dubu. Tidak ada listrik. Jaringan sulit. Kami diminta menyiapkan senter, lampu darurat, dan power bank. Semua terdengar sederhana, tetapi bagiku itu adalah tanda bahwa hidup kami akan benar-benar berubah.
“Anak-anak di kampung itu sudah lama menunggu Ibu Guru datang,” tutur kepala sekolah. Kalimat itu membuat dada saya terasa penuh. Saya belum melakukan apa-apa, tetapi sudah dinantikan.
Lima hari kemudian, kami berangkat. Perjalanan dari Jayapura menuju ke sekolah memakan waktu lima sampai enam jam. Jalanan panjang. Debu ada di mana-mana. Semua terasa sangat melelahkan. Ketika kami tiba, matahari hampir tenggelam. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Di depan sebuah rumah, kepala sekolah dan masyarakat sudah menunggu. Mereka tersenyum, menyapa, dan menyerahkan ikan hasil pancingan, sayur, dan cabai.
“Supaya Ibu Guru bisa masak,” kata mereka. Saat itu, saya hampir menangis. Kami datang sebagai orang asing, tetapi disambut seperti keluarga. Saya yang semula takut ditolak justru merasa diterima tanpa syarat.
Hidup tanpa listrik dan internet membuat segalanya terasa lebih pelan. Ada malam-malam ketika aku berbaring sambil bertanya dalam hati. Aku akan kuat sampai kapan? Namun, setiap pagi, ketika melihat anak-anak datang ke sekolah dengan senyum lebar dan semangat yang tidak pernah surut, pertanyaan itu perlahan kehilangan kekuatannya.
Kami belajar bersama. Saya mengajarkan mereka membaca, menulis, dan menghitung. Mereka mengajariku tentang bertahan hidup, tentang berbagi tanpa menghitung, tentang kepedulian yang tulus. Mereka sering datang menawarkan sayur, kayu bakar, atau sekadar mengajak memancing di sungai. Masyarakat pun selalu terbuka, selalu bertanya apa yang kami butuhkan.
Hampir dua tahun aku mengabdi di Kampung Dubu. Ada hari-hari lelah, ada rindu yang tidak pernah benar-benar pergi, ada momen ingin menyerah. Namun, ada juga pertumbuhan yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya datang dengan ketakutan, tetapi saya bertahan dengan keyakinan. Kampung Dubu mungkin tidak ada di peta yang biasa dilihat orang. Namun, saya belajar bahwa berangkat tanpa peta bukan berarti kehilangan arah. Terkadang, justru di sanalah saya menemukan tujuan hidup yang sesungguhnya.