Pagi di rumah tidak pernah benar-benar hening. Selalu ada suara batuk ibu yang berpelukan dengan udara pagi. Usia yang sudah tidak muda lagi. Ibu harus menahan sakit yang tidak terkira setiap hari. Tampak kesibukan lain di halaman. Ayah sudah bersiap ke ladang, cangkul yang bertengger di bahu dan kaki yang berjalan sedikit pelan karena sudah tidak terlalu sanggup menopang tubuh. Kecelakaan beberapa lalu, menyebabkan kaki ayah tidak lagi sempurna. Namun, semangatnya untuk tetap menafkahi keluarga di tengah keterbatasan tidak pernah pudar. Ayah bekerja sebagai seorang petani. Setia pada tanah, sabar pada musim, dan tegar dalam diam.
Saya Sukma Rita, anak pertama yang tumbuh di rumah yang sederhana. Rumah yang tidak penuh dengan harta, tetapi tidak pernah kosong kasih sayang dan harapan. Sejak kecil saya terbiasa melihat kerja keras tanpa panggung. Tidak ada tepuk tangan untuk petani. Tidak ada sorotan untuk ibu yang tetap memasak meskipun tubuhnya sakit. Namun, dari sanalah semangat saya ditempa. Saya selalu memiliki api juang di dalam dada, keinginan untuk belajar, untuk maju, untuk membuktikan bahwa anak petani pun boleh bermimpi tinggi.
Saya pun mampu menyelesaikan Pendidikan S-1 dengan predikat cumlaude. Selesai dengan segala keterbatasan. Ilmu di perkuliahan tidak saya biarkan hanya menetap di diri. Saya ingin berbagi dan menjadi pendidik yang sesungguhnya. Setelah pulang kembali ke kampung halaman, saya pun mengabdi menjadi guru honorer di daerah saya. Guru yang terkenal dengan gaji yang kecil. Namun, saya tidak pernah memandang itu. Dua tahun mengabdi, perjalanan menjadi guru honorer harus terhenti ketika saya mendapatkan kabar bahagia karena ada pembukaan PPG Prajabatan (Bagi Calon Guru). Saya mengikuti seleksi yang panjang selama berbulan-bulan. Saya pun lulus. Perkuliahan berjalan satu tahun, dengan segala pembelajaran berharga di dalamnya.
PPG Prajabatan (Calon Guru) datang seperti musim yang membuka jendela baru dalam perjalanan saya menjadi guru. Dulu saya hanya membawa niat dan pengetahuan dasar, tetapi di PPG Prajabatan saya ditempa dengan cara berpikir yang lebih tajam dan hati yang lebih peka. Setiap pertemuan bukan sekadar mempelajari teori, melainkan memahami manusia di balik bangku kelas. Saya belajar bahwa mengajar bukan hanya menyampaikan materi, melainkan merancang pengalaman belajar yang bermakna. Perjalanan Panjang perkuliahan PPG membawa hasil yang membahagiakan. Tidak lama setelah pengumuman kelulusan PPG, beberapa bulan kemudian, saya pun mengikuti seleksi ASN.
Ketika pengumuman kelulusan ASN keluar, rumah kami dipenuhi rasa syukur. Tetangga berdatangan, ucapan selamat mengalir. Ayah tersenyum lebih lebar dari biasanya. Ibu menggenggam tangan saya lama, seolah takut melepas. Namun, kebahagiaan itu segera disusul kenyataan, saya akan ditempatkan jauh dari kampung halaman. Bahkan, harus menghabiskan perjalanan selama dua hari jalur darat, perjalanan yang cukup jauh, dan hanya bisa diakses melalui daratan.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa jalan hidup saya akan membawa saya menjadi ASN dan ditempatkan jauh dari kampung halaman. Namun, keinginan untuk mengabdi sebagai guru tidak menyurutkan langkah saya untuk tetap berjuang.
Lokasi sekolah yang berada di kawasan perkebunan sawit, masuk jauh ke dalam meninggalkan keramaian kota. Beberapa orang yang saya tanya bahkan tidak tahu ada sekolah di sana. Nama tempatnya asing di telinga. Jaraknya membuat dada saya sesak, bukan karena takut tempatnya, melainkan karena harus meninggalkan orang tua, terutama ibu yang sering sakit. Namun, ayah berkata pelan, “Jangan kecilkan jalanmu sendiri hanya karena takut jauh.”
Perjalanan menuju tempat penugasan terasa seperti memisahkan satu bab hidup dengan bab lain. Jalan beraspal berubah menjadi tanah kuning. Gedung berganti kebun. Keramaian berubah sunyi. Barisan pohon sawit berdiri panjang seperti lorong hijau yang tidak ada ujungnya. Di awal pengabdian, dunia terasa mengecil. Prasangka-prasangka lama muncul kembali di kepala saya, pasti sulit, pasti sepi, pasti berat.
Ketika saya tiba, sekolah itu berdiri sederhana di tengah hamparan kebun dan hutan. Bangunannya tidak besar. Catnya mulai pudar. Pagarnya hanya ada beberapa bilah bambu, pagar itu dibuat sendiri oleh guru-guru. Halamannya luas tetapi penuh dengan kotoran hewan yang sering bermain di area sekolah. Namun, bendera merah putih tetap berkibar di depannya. Saya menatapnya lama. Di situlah saya akan mengabdi. SMP Negeri 14 Langsa, sekolah yang mengubah pandangan saya tentang dunia pendidikan. Jumlah siswa saat itu hanya empat belas orang. Empat belas anak. Empat belas nama. Empat belas harapan.
Setiap awal semester, kami para guru tidak hanya mengajar, kami juga “menjemput” murid untuk bersekolah di SMP Negeri 14 Langsa. Kami menyusuri jalur kebun, mendatangi pondok-pondok untuk mencari murid, berbincang dengan orang tua, meyakinkan bahwa sekolah tetap penting. Banyak keluarga hidup dalam keterbatasan ekonomi. Anak-anak sering membantu orang tua bekerja, ikut ke ladang, membantu merawat tanaman, mencari jamur di perkebunan sawit, dan mengumpulkan hasil kebun seadanya untuk dijual. Ekonomi mereka rendah, tetapi daya tahan mereka tinggi.
Fasilitas sekolah juga penuh keterbatasan. Listrik ada, tetapi dayanya tidak kuat. Jika kami menyalakan layar untuk pembelajaran, sering sekali listrik tiba-tiba padam. Layar menggelap di tengah penjelasan. Ruangan menjadi hening beberapa detik, lalu anak-anak tersenyum sambil berkata santai, “Padam lagi, Bu.” Mereka sudah terbiasa, sementara saya belajar membiasakan diri.
Buku pelajaran tidak tersedia lengkap. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya tidak bisa hanya mengandalkan satu paket buku. Saya harus merancang sendiri banyak media ajar. Saya membuat modul sederhana. Menulis bacaan pendek dengan konteks kehidupan mereka. Tulisan tentang kebun, hujan, panen, jalan tanah, dan keluarga. Saya mengubah cerita lisan menjadi teks. Murid-murid tetap semangat dalam berkarya. Keterbatasan memaksa saya kreatif. Peristiwa tersebut membuat saya merasa benar-benar menjadi seorang guru.
Namun, ada luka yang tidak terlihat di rasa percaya diri anak-anak. Mereka sering ditertawakan oleh teman dari sekolah yang berbeda. Sekolah mereka disebut sekolah hutan, sekolah hantu. Ada yang berkata lebih banyak monyet daripada manusia di sekitar sekolah.
Kalimat itu mungkin dianggap gurauan oleh orang luar, tetapi menjadi beban di hati mereka. Saya pernah melihat seorang murid diam ketika ditanya sekolahnya di mana. Ia menunduk, seolah nama sekolah itu sesuatu yang memalukan. Hari itu saya pulang dengan hati berat. Keesokan harinya di kelas, saya bercerita tentang diri saya. Ayah saya seorang petani. Ibu saya yang sering sakit-sakitan. Masa kecil saya yang sederhana. Lalu saya berkata kepada mereka, “Ibu juga anak petani. Kalau ibu bisa sampai di sini, kalian juga bisa sampai lebih jauh. Jangan berhenti bermimpi hanya karena orang lain menertawakan tempat kalian berdiri.”
Sejak itu saya sering mengulang kalimat yang sama dalam berbagai bentuk “Jangan berhenti bermimpi.”
Perlahan, saya melihat perubahan kecil. Mereka mulai berani bicara. Mulai berani membaca keras. Mulai berani menulis cerita sendiri tentang mencari jamur, membantu orang tua, jalan berlumpur menuju sekolah.
Kemudian, datang satu kesempatan tidak terduga. Saya mengikuti seleksi untuk menjadi talent dalam kegiatan Hari Guru Nasional. Saya membawa cerita sekolah kami, tentang listrik yang sering padam, mencari murid ke pelosok, keterbatasan buku, dan semangat yang tidak padam.
Saya tidak pernah menyangka sekolah kami terpilih. Ketika kabar itu datang, anak-anak seperti mendapat sayap. Mereka bersorak di kelas. Mereka bertanya setiap hari kapan tim dari Kemendikdasmen datang. Ketika tim kementerian akhirnya datang ke Kota Langsa untuk proses pengambilan gambar dan rangkaian syuting, rasa bangga itu semakin nyata. Anak-anak datang dengan pakaian paling rapi yang mereka punya. Mereka berlatih menjawab pertanyaan. Mereka ingin tampil baik. Mereka ingin menunjukkan bahwa sekolah di tengah kebun sawit juga punya kualitas dan cerita.