Di Balik Jalan Berlumpur, Ada Harapan yang Menunggu (Kharisma C.M.S. Setlight)

Datang dengan Takut, Pulang dengan Keyakinan

Masih lekat di ingatan saya, ketika nama Kampung Ubiyau pertama kali benar-benar hadir dalam hidup saya. Bukan dari cerita siapa pun, mel dari selembar Surat Keputusan ASN yang menyatakan bahwa SDN Inpres Ubiyau, Kabupaten Keerom, Papua, menjadi tempat penugasan  saya sebagai guru. Nama kampung itu terasa begitu asing, bahkan untuk membayangkan tempatnya saja saya tidak mampu. 

Yang pertama terbersit hanya perasaan takut. Saya takut tidak mampu beradaptasi, takut tidak sanggup menempuh jarak setiap hari, dan takut tidak kuat menghadapi kondisi yang sama sekali belum pernah  dibayangkan sebelumnya. Ketakutan itu ikut menemani perjalanan pertama saya menuju Ubiyau ketika menyusuri jalan yang panjang, sunyi, dan diapit hutan di kanan kiri. 

Sumber gambar:Kharisma C.M.S. Setlight

Hingga saya benar-benar menyadari bahwa saya sedang melangkah masuk ke dunia yang sangat berbeda dari dunia yang selama ini saya kenal.

Dari perjalanan itulah, muncul pertanyaan, apakah saya benar-benar siap menjadi guru di tempat yang namanya saja baru saya dengar. Sementara bayangan tentang sekolah yang layak, akses yang mudah, dan fasilitas yang cukup terasa begitu jauh dari kenyataan yang ada di depan mata. 

Namun, saya tetap datang, bukan karena saya  berani, melainkan karena saya percaya bahwa penempatan ini bukan sekadar kebetulan. Saya datang dengan ragu dan cemas,  dengan perasaan  ketidakmampuan yang  sangat kuat. Perlahan saya belajar bahwa rasa takut bukan tanda saya salah tempat, melainkan bagian dari proses menuju keberanian yang sebenarnya.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa ketakutan yang saya rasakan di awal justru menjadi pintu pertama untuk mengenal Ubiyau dengan cara yang lebih jujur. Saya tidak datang sebagai guru yang sudah siap dengan segala jawaban, tetapi sebagai manusia yang harus belajar menerima kenyataan, menyesuaikan diri, dan menumbuhkan keyakinan sedikit demi sedikit bahwa saya bisa bertumbuh bersama kampung ini.

Jalan Panjang dan Keterbatasan yang Nyata

Keterbatasan di SDN Inpres Ubiyau tak usah dicari, saya bisa langsung melihat sejak hari pertama  mengajar. Buku pelajaran sangat terbatas, alat tulis tidak selalu dimiliki oleh setiap anak. Berbagai sarana yang dianggap wajar di sekolah kota, justru menjadi sesuatu yang langka di sini. Jaringan internet sulit diandalkan, sehingga saya tidak bisa dengan mudah mencari bahan ajar tambahan atau sumber belajar pendukung  yang biasa dilakukan guru di kota besar. Saya dipaksa untuk lebih mengandalkan apa yang saya miliki, bukan apa yang seharusnya tersedia.

Namun,  keterbatasan yang paling menguras perasaan saya bukanlah keterbatasan yang ada di ruang kelas. Tetapi yang paling berat justru jarak dan akses menuju sekolah. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur yang licin dan terjal. Menjadi keseharian kami mengalami sepeda motor    tergelincir, dan jatuh bangun di jalan. Di kanan kiri pohon-pohon berdiri sunyi seolah menjadi saksi dari perjuangan menuju sekolah. Sementara tubuh dan pikiran saya harus menahan lelah yang amat sangat.

Dalam kondisi seperti itu, saya pernah bertanya dalam hati mengapa untuk bisa mengajar saya harus melewati medan yang begitu berat? Akan tetapi, pada saat yang sama saya juga menyadari bahwa  anak-anak di Ubiyau, juga harus menempuh jalan yang berat untuk mengejar pendidikan. Saya mulai melihat keterbatasan bukan hanya sebagai kesulitan, tetapi sebagai realitas hidup anak-anak di kampung. Perlahan cara pandang saya terhadap makna perjuangan dalam pendidikan ikut berubah.

Menjadi Guru dalam Rutinitas yang Sederhana

Saya memulai hari  selalu  lebih pagi dari kebanyakan orang. Jam enam pagi saya sudah berangkat. Jam tiba di sekolah yang tidak pernah bisa dipastikan. Kadang saya tiba setengah delapan, kadang baru benar-benar sampai sekitar jam delapan, bergantung pada kondisi jalan dan cuaca hari itu.  Hampir selalu ada pemandangan yang sama ketika saya tiba di sekolah .Anak-anak yang sudah duduk menunggu di teras, memperhatikan arah jalan. Lalu , mereka berdiri dan berteriak menyapa ketika motor kami datang. Sapaan sederhana selalu terucap dari mulut mereka, “Selamat pagi, Ibu”. Sapaan itu, selalu terasa seperti sambutan hangat yang mengobati lelah perjalanan.

Di dalam kelas, suasana belajar berlangsung dengan sangat sederhana. Tidak semua anak memiliki buku, tidak semua membawa alat tulis, dan kondisi meja serta kursi tidak selalu lengkap. Namun kelas tetap berjalan dengan segala keterbatasannya. Saya menulis lebih banyak di papan tulis ketika buku tidak cukup. Saya berbagi kertas seadanya ketika alat tulis tidak tersedia. Saya harus mengulang penjelasan dengan lebih pelan agar semua anak bisa mengikuti. Dalam proses itu, saya belajar bahwa mengajar di Ubiyau bukan tentang bagaimana menyampaikan materi dengan metode yang rumit, melainkan tentang bagaimana memastikan setiap anak tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Rutinitas yang sederhana ini perlahan membentuk cara saya memandang profesi guru. Saya tidak lagi mengejar kesempurnaan proses belajar, tetapi lebih berusaha menghadirkan pembelajaran yang nyata dan relevan dengan kondisi anak-anak. Saya belajar  di tempat seperti Ubiyau, kehadiran guru yang konsisten dan penuh kesabaran jauh lebih berarti daripada kelengkapan perangkat pembelajaran.

Kreativitas yang Lahir dari Keadaan

Saya tidak pernah datang ke Ubiyau dengan niat untuk menjadi guru yang kreatif. Keadaan memaksa saya untuk terus mencari cara agar pembelajaran tetap berjalan. Di rumah, saya mencetak bahan ajar dan lembar kerja sederhana, lalu menyesuaikannya dengan kemampuan anak-anak yang sangat beragam. Saya berusaha membuat aktivitas belajar yang bisa dilakukan meskipun tanpa media lengkap dan tanpa fasilitas yang memadai.



Sumber gambar:Kharisma C.M.S. Setlight

 

Saya sering memodifikasi kegiatan belajar agar tetap bermakna. Ketika media pembelajaran tidak tersedia, saya menggunakan benda-benda yang ada di sekitar kelas sebagai alat bantu. Ketika aktivitas dalam buku tidak dapat dilaksanakan, saya mengubahnya menjadi kegiatan yang lebih sederhana, tetapi tetap membantu anak-anak memahami materi. Saya menyadari bahwa kreativitas di tempat seperti Ubiyau bukanlah soal metode yang canggih, melainkan keberanian untuk beradaptasi dan tidak menyerah pada keterbatasan. Bagi saya, yang terpenting adalah memastikan bahwa anak-anak tidak kehilangan hak belajarnya hanya karena sarana tidak tersedia. Di sinilah saya belajar bahwa kreativitas guru sesungguhnya tumbuh dari kepedulian, bukan dari kelengkapan fasilitas.

Anak-Anak  Mengubah Cara Pandang Saya

Saya selalu mengira bahwa saya datang ke Ubiyau untuk mengajar anak-anak.  Perlahan saya menyadari bahwa justru merekalah yang mengajarkan saya tentang makna pendidikan. Bukan hanya satu murid yang mengubah cara pandang saya, melainkan beberapa anak yang datang dari kampung yang berbeda dan harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk sampai ke sekolah. Suatu hari, saya melihat  sendiri bagaimana mereka berjalan hampir enam kilometer untuk berangkat dan  pulang sekolah. Total jarak yang mereka tempuh setiap hari mencapai dua belas kilometer.

Yang membuat hati saya terasa perih bukan hanya jarak sejauh itu, tetapi  cara mereka menjalaninya. Mereka berjalan berkelompok, kadang diantar orang tua, kadang hanya bersama teman-temannya. Ketika, saya lewat, mereka masih sanggup tersenyum, melambaikan tangan, memanggil saya, dan tertawa. Di tengah keterbatasan yang begitu nyata, semangat mereka untuk datang ke sekolah tidak pernah terlihat pudar.

Melihat mereka, saya mulai memahami bahwa pendidikan bagi anak-anak Ubiyau bukan sekadar kewajiban sekolah, tetapi bagian dari mimpi yang mereka rawat dengan cara yang sangat sederhana. Mereka datang ke sekolah setiap hari, meskipun jarak dan kondisi tidak pernah benar-benar berpihak kepada mereka.

Sumber gambar:Kharisma C.M.S. Setlight

 

Hati yang Terketuk

Pada saat seperti itulah, saya justru merasa sangat kecil. Saya merasa belum menjadi guru yang baik, belum mampu membantu mereka sebanyak yang seharusnya. Saya belum bisa memberikan pendidikan yang benar-benar layak bagi anak-anak yang berjuang  untuk belajar. Pertanyaan yang sering muncul di dalam hati saya sangat sederhana, tetapi terasa berat, yaitu apakah saya pantas disalami setiap pagi oleh anak-anak ini? Apakah saya pantas menerima senyum dan sapaan merek?, sementara saya sendiri merasa masih sangat kurang memberikan ilmu pengetahuan yang baik.

Perasaan sedih itu tidak datang sebagai keputusasaan, melainkan sebagai pengingat bahwa menjadi guru bukan soal merasa sudah memberi, tetapi tentang kesadaran bahwa masih begitu banyak hal yang harus diperjuangkan. Dari sanalah, saya mulai memaknai profesi guru bukan sebagai pekerjaan yang harus diselesaikan, melainkan sebagai perjalanan panjang untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih peka terhadap realitas anak-anak yang saya didik.

Momen itulah yang perlahan mengubah cara pandang saya tentang keberhasilan dalam pendidikan. Bagi saya, keberhasilan bukan lagi tentang capaian angka atau laporan administrasi, tetapi tentang seberapa jauh saya mampu menjaga semangat anak-anak agar tetap percaya bahwa sekolah adalah tempat mereka tumbuh dan bermimpi.

Menyentuh Akar: Mengabdi di PAUD Kampung Ubiyau

Pengabdian saya di Kampung Ubiyau tidak hanya berlangsung di SD. Di kampung ini terdapat sebuah PAUD swadaya, PAUD Kampung Ubiyau. PAUD ini dikelola oleh lima orang mama guru, masyarakat asli kampung, dengan latar belakang pendidikan SMP dan SMA. Di PAUD ini, saya mendampingi sekitar dua puluh anak lebih. Pada awalnya saya hanya datang untuk menyapa dan berkenalan dengan mereka.  Dari seringnya pertemuan sederhana itu, saya melihat betapa besar semangat para mama guru untuk mengajar anak-anak di kampung sendiri agar tidak kehilangan masa emas belajar.

Di balik semangat itu, saya juga melihat bahwa mereka belum memiliki arah pembelajaran yang terstruktur, belum memiliki panduan yang jelas, dan belum mendapatkan pendampingan yang memadai. Setiap pagi, saya menyempatkan diri mengunjungi PAUD tersebut. Di  rumah saya mencetak bahan ajar, lembar kegiatan, serta contoh aktivitas pembelajaran untuk  dibagikan kepada para mama guru sebagai bahan ajar di kelas. 

Saya membantu menyusun kurikulum alternatif dengan mengadaptasi kurikulum nasional agar pembelajaran di PAUD menjadi lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak di kampung. 

Dalam proses ini, kami didampingi oleh seorang guru senior asli Papua bernama Ibu Axamina Lensru. Ibu Axamina  menjadi tiang sandaran kami selama ini, baik dalam memberikan arahan maupun dalam menguatkan langkah kami agar tetap selaras dengan konteks sosial dan budaya setempat.

Bagi saya, membantu PAUD Kampung Ubiyau bukanlah tentang menunjukkan kemampuan, tetapi tentang membalas kebaikan Tuhan dengan cara yang sederhana. Saya bekerja untuk orang-orang yang tidak dapat membayar saya.  Justru dari sanalah saya belajar tentang makna memberi yang sesungguhnya.

Tempat Saya Dibutuhkan

Saya sering ditanya apakah saya pernah ingin berhenti mengajar di Ubiyau. Jawaban saya selalu sama, bahwa saya tidak pernah benar-benar ingin berhenti. Memang, di awal saya diliputi ketakutan dan keraguan, tetapi semakin lama saya tinggal dan mengajar di sini, justru semakin yakin bahwa inilah tempat yang tepat untuk berkarya.

Selama saya mengabdi di Ubiyau, Tuhan memberi banyak kebaikan. Bukan hanya dalam bentuk rezeki materi, tetapi juga dalam bentuk doa-doa tulus, penerimaan, dan rasa kekeluargaan yang saya rasakan setiap hari. Saya merasa dicintai, dihargai, dan dianggap berarti. Bukan karena jabatan  sebagai guru, tetapi karena kehadiran saya diterima sebagai bagian dari kehidupan di kampung. Ubiyau bukan hanya tempat saya bekerja, tetapi tempat saya bertumbuh sebagai manusia. Di sinilah saya belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang berapa lama kita bertahan, tetapi tentang seberapa tulus kita hadir.

Pendidikan dan Kekeluargaan di Ubiyau

Pendidikan di Ubiyau sangat berbeda dengan sekolah di kota. Bukan karena bangunan atau fasilitasnya,  tetapi karena relasi antar manusia yang terbangun di dalamnya. Di sini, guru dan murid tidak hanya bertemu di ruang kelas, tetapi juga saling menyapa di jalan, saling mengenal keluarga, dan saling menjaga satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak menyayangi guru dengan cara yang sangat jujur dan tulus. Di tengah segala keterbatasan, saya justru menemukan kekayaan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, yaitu rasa memiliki dan rasa kebersamaan. Dari hubungan yang sederhana inilah, saya belajar bahwa pendidikan sejatinya tumbuh dari kepercayaan, bukan dari fasilitas. Saya bersyukur dapat mengenal pendidikan dari sisi yang sangat manusiawi. Sisi yang mungkin jarang terlihat dalam laporan resmi, tetapi sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari di Kampung Ubiyau.

Pulang untuk Mengubah Kampung

Jika suatu hari,  anak-anak Ubiyau membaca tulisan ini, saya ingin mereka tahu bahwa perjalanan panjang yang mereka tempuh setiap hari bukanlah perjuangan yang sia-sia. Saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang berani bermimpi, berani belajar, dan berani melangkah keluar untuk mengenal dunia yang lebih luas.Tanpa melupakan tanah tempat mereka berasal.

Namun setelah itu, saya ingin mereka pulang. Kembali ke kampungnya, mengabdi di tanah sendiri, membangun kampung sendiri, dan memajukan kampung sendiri. Karena bagi saya, masa depan Ubiyau tidak terletak pada siapa yang datang dari luar, tetapi pada siapa yang tumbuh dari dalam.

Saya percaya, anak-anak yang hari ini berjalan dua belas kilometer setiap hari untuk datang ke sekolah, kelak akan menjadi generasi yang membawa perubahan. Ubiyau akan selalu menunggu anak-anaknya untuk pulang membawa harapan.

signal_cellular_alt dilihat: 168 x