DARI TANAH 3T YANG JAUH DAN SUNYI, MENEMUKAN SUARA PANGGILAN
Perjalanan Seorang Guru Muda dari Sambas ke Pedalaman Parek
Norholis, S.Pd, Gr
Anak Kampung yang Tak Pernah Bermimpi menjadi Guru
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Mimpi saya waktu kecil sederhana dan jauh dari ruang kelas: masa depan dengan seragam yang berbeda dari yang saya kenakan hari ini. Seragam yang identik dengan ketegasan, kedisiplinan, dan pengabdian kepada negara.
Saya ingin berdiri tegak sebagai bagian dari mereka yang menjaga ketertiban dan keamanan, mengabdi melalui jalur yang dianggap anak-anak kampung sebagai jalan menuju kebanggaan keluarga. Saya ingin membantu keluarga, mengangkat martabat orang tua, dan keluar dari lingkaran keterbatasan yang begitu akrab bagi anak kampung di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Namun hidup jarang mengikuti rencana seorang anak muda.
Saya sekolah di SMAN 5 Kota Singkawang Provinsi Kalimantan Barat. Kota yang bagi saya merupakan jendela dunia. Di sinilah saya mulai paham bahwa perjuangan bukan sekadar tentang lulus, melainkan tentang bertahan dalam keraguan. Setiap hari saya belajar, tetapi di dalam hati, saya belum benar-benar tahu akan menjadi apa.
Namun, di rumah, ada satu suara yang pelan, tapi tak pernah padam: suara ibu. Beliau seorang guru yang tidak pernah memaksa. Tidak pernah memerintah. Dalam setiap doanya, yang saya yakin tak pernah berhenti, terselip satu harapan agar saya mengikuti jejaknya. Saya tidak menolak, tapi juga tidak mengiyakan.
Saya mencoba mendaftar ke beberapa instansi, tetapi gagal. Coba lagi. Gagal lagi. Kegagalan demi kegagalan secara perlahan mengikis kepercayaan diri saya. Hingga pada 2019, saya daftar kuliah di Universitas Tanjungpura Pontianak dan diterima di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), jurusan yang saat itu sangat sulit dimasuki. Ironisnya, pilihan itu bukan lahir dari keyakinan saya. Tapi, lahir dari harapan seorang ibu. Saya masuk jurusan ini dengan ragu dan belajar pun dengan setengah yakin.
Namun, di antara buku teori pendidikan, praktik microteaching, dan diskusi tentang anak-anak di pelosok negeri, ada sesuatu yang mulai berubah. Saya mulai melihat pendidikan bukan sebagai profesi, melainkan sebagai ruang kehadiran. Menjadi guru bukan tentang berdiri di depan kelas. Menjadi guru adalah tentang berdiri di depan masa depan. Perlahan, tanpa saya sadari, panggilan itu tumbuh di hati saya.
Tahun yang Mengubah Segalanya
Tahun 2023 merupakan babak baru dalam perjalanan saya. Berhasil lulus pendidikan S1 dalam waktu kurang dari empat tahun. Tidak lama kemudian, saya mendaftar Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Gelombang 1 melalui program beasiswa dua semester dari Direktorat PPG Kemendikbudristek.
Saya dinyatakan lulus seleksi dan kembali belajar di Universitas Tanjungpura selama satu tahun penuh. Dalam kurun waktu itulah, saya benar-benar merasakan proses pembentukan diri sebagai seorang guru, bukan hanya melalui pembelajaran teori, melainkan juga melalui praktik dan pengalaman yang menguatkan panggilan hati.
PPG Prajabatan (Calon Guru) bukan sekadar kuliah lanjutan. Ia seperti ruang pembakaran. Saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga diuji secara mental, emosional, dan profesional. Saya mulai merasakan identitas sebagai guru tumbuh lebih utuh. Namun, hidup tidak pernah menunggu kesiapan kita.
Sebulan sebelum Uji Kompetensi PPG, April 2024, ibu saya meninggal dunia sebelum sempat memasuki masa pensiunnya sebagai guru. Saya masih ingat hari itu di rumah sakit. Dengan suara pelan beliau berbisik, “Kamu berangkat saja ke Pontianak (kuliah PPG)… lanjutkan sampai selesai.”
Sekitar satu jam setelah kalimat itu diucapkan, beliau mengembuskan napas terakhir. Dalam keheningan perjalanan pulang, saya menyadari bahwa sosok yang menanamkan harapan itu telah pergi, tetapi nilai yang beliau titipkan justru tinggal menetap di dalam diri saya. Beliau yang menanamkan harapan itu. Beliau ingin saya menjadi guru. Dan ketika saya hampir sampai pada garis itu, beliau tidak lagi ada.
Saya mengikuti ujian dengan hati yang retak, tetapi tidak patah. Ada satu kalimat yang terus terngiang dalam diri saya: Saya tidak boleh berhenti di sini. Saya Harus Lulus, dan saya Lulus. Namun, saat menerima sertifikat pendidik, saya tidak merasa menang. Saya merasa dititipi. Saya tidak lagi berjalan untuk memenuhi harapan ibu. Tapi, berjalan untuk meneruskan nilai yang beliau hidupi.
Sebuah Nama yang Tidak Bersinyal
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan bukan hanya memberi saya kesempatan memperoleh beasiswa, melainkan juga membuka jalan untuk mengikuti seleksi ASN PPPK. Tanpa menempuh PPG, mungkin saya tidak memiliki kesempatan tersebut.
Seleksi ASN PPPK tahun 2024 saya jalani dengan keyakinan yang lebih matang. Sambil menunggu proses yang cukup panjang, saya memutuskan melanjutkan studi S2 melalui program RPL Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Semarang. Bagi saya, belajar adalah cara untuk terus bertumbuh dan memantaskan diri.
Pada Oktober 2025, saya menerima Surat Keputusan pengangkatan. Di lembar itu tertulis, “SDN 30 Parek, Desa Parek, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak”.
Saya membaca nama itu berulang-ulang. “Desa Parek”. Sebuah nama yang merujuk pada sekolah di wilayah terpencil, daerah yang tergolong sangat tertinggal dan berada di kawasan 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) di Kabupaten Landak.
Saya tidak tahu letak desa tersebut. Bahkan, sebagian orang di Kabupaten Landak pun tidak bisa menjelaskan dengan pasti. Saya bertanya kepada pemilik warung. Saya bertanya kepada sopir. Tapi, belum ada jawaban pasti. Maka saya mencari sinyal untuk mencari lokasi. Namun, sinyal tidak ada. Mungkin itulah pertanda pertama, “Saya akan ditempatkan di daerah yang tidak hanya jauh secara jarak, tetapi juga jauh dari segala kemudahan.
Perjalanan dari Sambas ke Parek membutuhkan waktu dua hari. Hari pertama menuju Ngabang. Hari kedua menembus jalan panjang yang diapit hutan, kebun sawit, dan bukit terjal. Sepanjang perjalanan itu, saya diam. Tapi, pikiran saya yang berbicara. Bagaimana jika saya tidak mampu? Bagaimana jika saya tidak kuat? Bagaimana jika saya menyerah?
Di antara kegelisahan itu, terselip kekhawatiran lain yang tak kalah sunyi, “Bagaimana dengan tesis yang sedang saya susun dan bimbingan yang telah berjalan? Semua pertanyaan itu berputar pelan di kepala, seolah berjalan seiring dengan panjangnya jalan yang sedang saya tempuh menuju tempat pengabdian pertama.
Saat itu saya merasa bahwa ketakutan itu nyata. Bukan dramatis, bukan berlebihan. Ia hadir sebagai kegamangan seorang anak kampung yang harus meninggalkan rumah, keluarga, dan zona nyaman. Ketika motor mulai memasuki jalan tanah yang mulai rusak, ketika lumpur mulai terlihat, ketika hutan semakin rapat, saya sadar bahwa saya benar-benar sedang melangkah ke dunia yang berbeda.
Tidak ada sinyal. Tidak ada lampu kota. Hanya jalan, lumpur, dan sunyi. Untuk kali pertama, saya merasa sangat kecil.
Malam Pertama di Rumah Kayu
Rumah dinas yang saya tempati ada di samping sekolah. Terbuat dari kayu. Sederhana. Tidak ada listrik siang hari. Malam hari pun bergantung pada PLTMH dengan daya kecil. Jika kemarau datang dan air surut, turbin berhenti.
Malam pertama di Parek adalah malam yang panjang. Tidak ada sinyal untuk menghubungi keluarga. Tidak ada cahaya terang. Hanya suara serangga dan angin yang menyentuh dinding kayu. Saya duduk lama dalam gelap yang tidak biasa.
Di Sambas, saya masih bisa menelepon keluarga. Di Pontianak, saya masih bisa terhubung dengan mereka. Tapi, di Parek, saya benar-benar sendiri. Saya bertanya pada diri sendiri, “Mengapa saya di sini?” Namun, di dalam sunyi itu, ada kesadaran kecil yang muncul, “Mungkin memang di tempat seperti inilah, guru paling dibutuhkan”.
Jalan Lumpur dan Anak-Anak yang Tidak Mengeluh
Hari-hari pertama mengajar membuka kenyataan yang tidak pernah saya alami sebelumnya.
Buku terbatas. Alat tulis tidak selalu ada. Listrik tidak menyala siang hari. Tidak ada internet. Namun, yang paling berat bukan itu. Yang paling berat adalah jalan menuju sekolah.
Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur kuning yang licin. Motor tersangkut lumpur. Kadang jatuh. Kadang harus didorong bersama. Hutan berdiri sunyi di kanan kiri, seperti dinding hijau yang tak berbatas. Saya bertanya dalam hati, “Mengapa untuk mengajar, saya harus melewati jalan seberat ini?
Lalu saya melihat anak-anak. Mereka berjalan kaki hingga tujuh kilometer tanpa menggunakan seragam sekolah. Sekolah dimulai pukul 07.30 karena menunggu mereka yang datang dari jauh. Mereka berjalan berkelompok, melewati jalan yang sama, lumpur yang sama, hutan yang sama. Tapi, mereka tak banyak mengeluh.
Ketika berpapasan dengan mereka, saya melihat mereka tetap tersenyum. Sambil melambaikan tangan, mereka berteriak riang. Saya jadi tersadar mengapa saya selalu mengeluh dalam hati, sedangkan mereka berjalan tanpa keluhan. Di situlah, saya merasakan sesuatu dalam diri saya runtuh.
Kelas Kecil, Pelajaran Besar
Sejak hari-hari pertama mengajar di SDN 30 Parek, saya mulai paham bahwa keterbatasan di tempat ini bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan. Ia hadir begitu nyata, begitu dekat, bahkan sebelum saya membuka buku pertama di kelas. Buku pelajaran pun sangat terbatas. Tidak semua anak memiliki alat tulis.
Meja dan kursi tidak cukup untuk dipakai semua murid. Tak ada listrik pada siang hari. Tak ada jaringan internet. Malam hari bergantung pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang dayanya kecil. Saat kemarau datang, air tidak cukup untuk memutar turbin. Kegelapan menjadi hal biasa. Saya bertanya dalam hati, “Bagaimana anak-anak dapat belajar dengan baik dalam kondisi seperti ini?
Namun seiring waktu, saya pun menyadari bahwa pertanyaan itu bukan hal penting. Yang lebih penting adalah bagaimana saya tetap mengajar di tengah kondisi tersebut. Saya harus bisa mengandalkan apa yang ada, bukan apa yang seharusnya tersedia.
Di dalam kelas, pembelajaran berjalan sederhana. Saya menulis lebih banyak di papan tulis ketika buku tidak cukup. Saya membagikan kertas seadanya ketika alat tulis terbatas. Saya mengulang penjelasan dengan lebih pelan agar semua anak dapat mengikuti. Ketika media pembelajaran tidak tersedia, saya menggunakan benda-benda di sekitar kelas sebagai alat bantu. Saya belajar bahwa kreativitas di tempat seperti Desa Parek bukanlah tentang metode yang canggih. Kreativitas tumbuh dari kepedulian dan kemauan untuk tidak menyerah.
Setiap pagi, hampir selalu ada pemandangan yang sama. Anak-anak duduk di teras sekolah, memperhatikan arah jalan. Ketika buka pintu rumah dinas dan saya terlihat, mereka berdiri dan berteriak, “Selamat pagi, Bapak!” Sapaan sederhana itu selalu terasa hangat. Ia memotong lelah perjalanan. Ia menghapus sunyi yang sempat mengendap di hati. Ia mengingatkan saya bahwa kehadiran seorang guru di tempat ini sangat berarti.
Murid-Murid yang Mengajarkan Keteguhan
Saya selalu berpikir bahwa saya datang ke Parek untuk mengajar. Namun, perlahan saya menyadari bahwa justru murid-muridlah yang banyak mengajari saya. Beberapa anak datang dari kampung yang berbeda. Mereka harus berjalan kaki hingga berkilo-kilometer untuk sampai ke sekolah.
Satu hal yang membuat hati saya perih tidak hanya jarak yang mereka tempuh, tetapi cara mereka menjalaninya. Mereka berjalan berkelompok. Kadang diantar orang tua, kadang hanya bersama teman.
Sumber Gambar: Norholis
Ketika berpapasan dengan mereka di jalan, saya lihat senyuman hangat. Mereka melambaikan tangannya, dan menyapa saya dengan ramah. Panas tidak mereka keluhkan. Hujan tidak jadi alasan untuk pulang. Jalan berlumpur tidak membuat mereka tidak ke sekolah. Saya jadi paham bahwa pendidikan bagi anak-anak Parek bukan sekadar kewajiban untuk sekolah, melainkan mimpi yang mereka rawat dengan cara yang sangat sederhana: datang setiap hari meskipun kondisi tidak selalu berpihak.
Pada saat-saat seperti itulah saya merasa sangat kecil. Saya merasa belum menjadi guru yang cukup baik. Belum mampu memberi sebanyak yang seharusnya. Belum bisa menghadirkan pendidikan yang benar-benar layak bagi anak-anak yang berjuang sejauh itu hanya untuk belajar.
Pertanyaan yang sering muncul di dalam hati saya sederhana, tetapi berat, “Apakah saya pantas disalami setiap pagi oleh anak-anak ini?Apakah saya pantas menerima senyum mereka, sementara saya sendiri merasa masih sangat kurang?” Ini menyadarkan saya jika perasaan itu tidak datang sebagai keputusasaan. Ia datang sebagai pengingat bahwa menjadi guru bukan tentang merasa sudah memberi, melainkan tentang kesadaran bahwa masih begitu banyak hal yang harus diperjuangkan.
Cara Pandang yang Berubah
Perlahan, hari-hari di Parek mengubah cara saya memandang profesi guru. Saya tidak lagi mengejar kesempurnaan proses pembelajaran. Tidak lagi membandingkan sekolah ini dengan sekolah di kota. Tidak lagi mempersoalkan fasilitas yang tidak tersedia. Yang saya kejar adalah kehadiran yang konsisten. Kesabaran yang nyata. Kepedulian yang tidak dibuat-buat. Saya belajar bahwa di tempat seperti Parek, kehadiran guru jauh lebih penting daripada kelengkapan perangkat pembelajaran.
Sumber Gambar: Norholis
Pendidikan di sini tumbuh dari relasi antarmanusia. Guru dan murid tidak hanya bertemu di ruang kelas. Tapi, saling menyapa di jalan. Saling mengenal keluarga. Saling menjaga dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak menyayangi guru dengan cara yang jujur dan tulus.
Di tengah segala keterbatasan, saya justru menemukan kekayaan yang tidak pernah saya duga: rasa memiliki. Rasa kebersamaan. Rasa diterima. Saya satu-satunya guru beragama Islam di sekolah, bahkan di desa Parek. Namun, saya tidak pernah merasa sendiri. Saya merasa dihargai, diterima, dan dianggap bagian dari kehidupan kampung.
Sumber Gambar: Norholis
Tuhan memberi saya banyak kebaikan melalui doa-doa tulus masyarakat, melalui senyum anak-anak, dan kehangatan yang tidak pernah saya duga. Di Parek, saya belajar bahwa pendidikan sejatinya tumbuh dari kepercayaan, bukan dari fasilitas.
Tempat Saya Dibutuhkan
Banyak yang bertanya apakah saya pernah terpikir untuk berhenti? Jawaban saya selalu sama: tidak. Memang, pada awalnya, saya datang dengan ketakutan dan keraguan. Saya merasa tidak siap dan tidak mampu. Namun, semakin lama saya tinggal dan mengajar di sini, semakin saya yakin bahwa inilah tempat saya dibutuhkan.
Parek bukan hanya tempat saya bekerja. Ia adalah tempat saya bertumbuh sebagai manusia. Saya belajar bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari berapa lama kita bertahan, tetapi dari seberapa tulus kita hadir. Saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi yang harus dijalankan, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih peka.
Sumber Gambar: Norholis
Di sinilah saya mengenal pendidikan dari sisi yang sangat manusiawi. Sisi yang mungkin jarang terlihat dalam laporan resmi, tetapi sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Harapan untuk Masa Depan
Banyak anak muda Parek yang kelak akan pergi keluar kampung untuk bekerja dan membangun keluarga. Saya berharap, suatu hari nanti, mereka akan kembali.
Jika belasan tahun ke depan anak-anak Parek membaca tulisan ini, saya ingin mereka tahu bahwa perjalanan panjang yang mereka tempuh setiap hari bukanlah perjuangan yang sia-sia. Saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang berani bermimpi, berani belajar, dan berani melangkah keluar untuk mengenal dunia yang lebih luas. Lalu, pulang ke kampung halaman.
Sumber Gambar: Norholis
Mengabdi di tanah sendiri. Membangun dan memajukan tempat asal mereka. Karena bagi saya, masa depan Parek tidak terletak pada siapa yang datang dari luar, tapi pada siapa yang tumbuh dari dalam.
Saya percaya, anak-anak yang hari ini berjalan kilometer demi kilometer untuk datang ke sekolah kelak akan menjadi generasi yang membawa perubahan. Kampung ini akan selalu menunggu mereka pulang membawa harapan.
Pulang dengan Makna
Saya datang ke Parek dengan rasa takut. Prasangka.keraguan yang tidak sedikit. Saya meninggalkan rumah, keluarga, dan segala yang familiar bagi saya. Saya melangkah ke tempat yang bahkan namanya saja baru saya dengar.
Namun, hari demi hari mengajarkan saya bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski hati dipenuhi keraguan.
Sumber Gambar: Norholis
Kini saya paham bahwa perjalanan jauh dari rumah justru membawa saya lebih dekat pada panggilan. Di ujung jalan lumpur, di tengah hutan, di tempat yang tidak bersinyal dan minim cahaya, saya menemukan makna menjadi guru. Saya tidak lagi merasa tersesat. Tidak lagi merasa sendiri. Saya tidak lagi bertanya mengapa saya ditempatkan di sini.
Semua ini karena di tempat yang sederhana ini, saya menemukan jawaban: saya dibutuhkan. Itulah arti sebenarnya dari perjalanan seorang guru. Berangkat dengan ragu, berjalan dengan keteguhan, dan pulang dengan makna.