Cahaya di Pesisir Parang: Saat Keterpaksaan Berubah Menjadi Pengabdian (Oleh: Hilmy Rafi’, S.Pd., Gr.)

Anak Sulung yang Menjadi Harapan

Saya lahir dan tumbuh di sebuah desa di pinggiran Kota Kudus, Jawa Tengah. Desa yang sederhana, berada di perbatasan antara Kudus dan Pati. Di sanalah seluruh perjalanan pendidikan saya dimulai—dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Saya adalah anak sulung dari dua bersaudara. Dalam keluarga sederhana seperti kami, posisi sebagai anak sulung sering kali terasa seperti sebuah amanah. Orang tua saya sebenarnya tidak pernah menuntut apa pun secara berlebihan. Namun saya tahu, tanpa mereka katakan sekalipun, ada harapan yang disematkan kepada saya.

Sejak lahir saya memiliki keterbatasan pada saraf mata yang membuat kemampuan penglihatan saya tidak sekuat orang pada umumnya. Kondisi ini termasuk dalam disabilitas sensorik netra. Dulu saya sering berpikir bahwa keterbatasan ini akan membatasi masa depan saya. Bahkan saya sempat membayangkan bahwa pendidikan saya mungkin hanya akan berhenti sampai SMA.

Namun orang tua saya tidak pernah membiarkan pikiran itu tumbuh terlalu lama. Mereka selalu meyakinkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba. Sejak kecil saya terbiasa duduk di bangku paling depan di kelas. Bukan karena saya ingin terlihat rajin, melainkan karena saya harus mendekat agar dapat mendengar penjelasan guru dengan lebih jelas.

Saat di jenjang TK dan SD, orang tua saya sering membantu menjelaskan kondisi saya kepada guru. Namun sejak SMP hingga kuliah, saya mulai belajar menjelaskan kondisi saya sendiri kepada guru dan dosen. Itu menjadi bagian dari proses saya belajar menerima diri.

Sampai saya menyelesaikan pendidikan sarjana, saya belum pernah jauh dari keluarga. Baru ketika menempuh pendidikan profesi guru (PPG) di Semarang, saya mulai merasakan hidup terpisah dari rumah.

Perjalanan itu akhirnya membawa saya pada satu langkah besar lainnya. Setelah menyelesaikan pendidikan profesi, saya mengikuti seleksi ASN PPPK melalui jalur disabilitas. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus dan ditempatkan sebagai guru di Kabupaten Jepara, tepatnya di Kecamatan Karimunjawa, Desa Parang.

Bagi saya, itu bukan sekadar kelulusan dalam seleksi. Itu adalah jawaban atas banyak keraguan yang dulu pernah saya rasakan.

Awal Perjalanan Menuju Pulau Parang

Tanggal 13 Mei 2024 menjadi hari yang tidak akan saya lupakan. Hari itu seluruh ASN PPPK yang mendapatkan penempatan di wilayah Karimunjawa harus melakukan lapor diri. Jumlah kami sekitar tiga puluh satu orang. Kami diantar secara bersama-sama oleh pihak dinas menuju Karimunjawa.

Pagi itu saya berangkat dari rumah sekitar pukul empat dini hari. Orang tua saya ikut mengantar sampai ke Pelabuhan Kartini, Jepara. Ini adalah perjalanan pertama kami menuju Karimunjawa.

Perjalanan laut menuju Karimunjawa memiliki dua pilihan kapal: kapal feri dan kapal cepat. Kami memilih kapal feri yang berangkat pukul tujuh pagi dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Bagi saya, perjalanan itu terasa sangat panjang. Bukan hanya karena lamanya waktu di laut, tetapi juga karena perasaan yang bercampur antara harapan, kecemasan, dan ketidakpastian.

Ketika akhirnya kapal bersandar di Karimunjawa sekitar tengah hari, rasa lega perlahan muncul. Kami beristirahat sejenak di sebuah penginapan sebelum mengikuti acara penyerahan penugasan pada keesokan harinya.

Namun perjalanan saya belum berhenti di sana.

Setelah acara selesai, saya dan beberapa guru lain yang ditempatkan di Pulau Parang harus kembali menyeberang menggunakan kapal menuju pulau tujuan. Perjalanan dari Karimunjawa ke Pulau Parang memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam.

Ketika kapal akhirnya merapat di dermaga Pulau Parang, matahari sudah mulai condong ke barat. Saya berdiri di atas dermaga kecil itu sambil menatap laut yang luas. Saat itulah saya menyadari: kehidupan baru saya benar-benar dimulai di tempat ini.

Antusiasme Anak-Anak Pulau

Saya bertugas di SDN 1 Parang dan mendapat amanah mengajar di kelas empat. Hari-hari pertama tentu diisi dengan proses penyesuaian—baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat sekitar.

Sementara waktu, saya dan beberapa guru baru tinggal di rumah kepala sekolah karena rumah dinas guru masih penuh. Meski berada di pulau kecil yang jauh dari daratan utama, saya justru menemukan sesuatu yang sangat berharga: semangat belajar anak-anak. Mereka datang ke sekolah dengan wajah penuh antusias. Mereka ingin belajar, ingin bercerita, ingin mengenal guru baru mereka.

Menjelang acara perpisahan kelas enam, kami para guru diminta membantu mempersiapkan berbagai penampilan siswa. Mulai dari gerak lagu, puisi, geguritan, hingga paduan suara. Latihan dilakukan hampir setiap hari. Pagi kami bertemu di kelas, sore kami kembali bertemu untuk latihan.

Dari situlah hubungan antara guru dan siswa semakin dekat. Kami tidak hanya berbagi pelajaran, tetapi juga cerita, tawa, dan pengalaman. Di pulau kecil itu saya belajar bahwa semangat belajar tidak ditentukan oleh lokasi geografis. Anak-anak di pulau terpencil pun memiliki mimpi yang sama besarnya.

Belajar Hidup di Daerah Khusus

Menjadi guru di daerah kepulauan tentu menghadirkan banyak konsekuensi yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Listrik di Pulau Parang berasal dari pembangkit tenaga surya dan diesel. Jika terjadi gangguan, seluruh pulau bisa mengalami pemadaman listrik selama berhari-hari.

Sinyal telepon juga tidak selalu stabil. Hanya satu provider yang dapat digunakan, dan itupun sering terganggu ketika cuaca buruk.

Transportasi laut pun tidak tersedia setiap hari. Kapal penyeberangan hanya beroperasi satu kali dalam seminggu. Jika cuaca buruk, kapal tidak berani berlayar. Dalam kondisi seperti itu, mobilitas warga menjadi sangat terbatas.

Saat musim angin barat tiba, ketersediaan bahan pokok pun sering berkurang. Harga-harga bisa melonjak karena pasokan yang terlambat datang. Semua kondisi itu perlahan mengajarkan saya untuk hidup lebih sederhana dan lebih sabar.

Jarak yang Mengajarkan Kerinduan

Selama dua puluh tujuh tahun hidup saya, hampir tidak pernah terpisah dari keluarga. Kini, untuk pertama kalinya saya harus tinggal jauh dari rumah. Rasa rindu tentu sering datang. Namun saya berusaha tidak memperlihatkan kesedihan itu kepada orang tua.

Ketika berbicara dengan mereka, saya lebih sering menceritakan hal-hal yang menyenangkan. Saya tidak ingin mereka khawatir. Hidup di perantauan mengajarkan saya banyak hal: mengatur kebutuhan sendiri, mengelola emosi, dan menghadapi berbagai masalah dengan lebih mandiri.

Ketika Kekhawatiran Menjadi Kenyataan

Sebagai seseorang dengan keterbatasan penglihatan, perjalanan laut sebenarnya memiliki risiko tersendiri bagi saya.

Suatu hari saya pernah diajak teman untuk berkunjung ke Pulau Nyamuk, pulau tetangga dari Parang. Perjalanan hanya sekitar tiga puluh menit menggunakan kapal. Namun ketika kapal merapat di dermaga, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Karena kondisi penglihatan saya yang terbatas dan matahari yang menyilaukan, saya tidak menyadari bahwa posisi saya sudah berada di tepi dermaga. Dalam sekejap saya terpeleset dan terjatuh ke laut.

Air laut yang dalam membuat saya panik. Saya juga tidak terlalu pandai berenang. Beruntung ada warga yang segera menarik tangan saya dan menolong saya naik kembali ke dermaga.

Saya selamat tanpa luka serius, meskipun semua barang di dalam tas saya basah kuyup. Laptop saya bahkan rusak total karena kemasukan air.

Peristiwa itu sempat meninggalkan trauma bagi saya. Namun perlahan saya belajar menerima bahwa setiap perjalanan pengabdian pasti memiliki ujian.

Dari Keterpaksaan Menuju Pengabdian

Ketika pertama kali menerima penempatan di Pulau Parang, jujur saja ada rasa terpaksa dalam hati saya.

Jauh dari keluarga, berada di pulau kecil, dengan segala keterbatasan yang ada—semuanya terasa seperti tantangan besar. Namun seiring waktu, perasaan itu perlahan berubah.

Saya mulai melihat wajah-wajah anak-anak yang penuh harapan setiap pagi. Saya melihat bagaimana masyarakat pulau menyambut para guru dengan penuh kehangatan.

Di tempat yang sederhana ini, saya justru menemukan makna pengabdian yang sesungguhnya.

Saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar di dalam kelas. Menjadi guru adalah tentang hadir, memberi harapan, dan menyalakan mimpi bagi anak-anak yang mungkin jarang mendapat kesempatan.

Hari ini saya tidak lagi melihat penempatan di Pulau Parang sebagai keterpaksaan. Saya melihatnya sebagai panggilan. Sebuah kesempatan untuk memberi arti pada profesi yang saya jalani.

Dan di pulau kecil yang dikelilingi lautan ini, saya sedang belajar menjadi guru—bukan hanya bagi murid-murid saya, tetapi juga bagi diri saya sendiri.

signal_cellular_alt dilihat: 143 x