Bertumbuh karena Pengabdian (Selvi Octaviana)

Saya memikirkan orang tua yang masih membutuhkan biaya. Saya berusaha membuat surat lamaran pekerjaan yang saya sebar di beberapa sekolah di Bontang. Namun, tidak kunjung ada kabar. Setelah dua bulan menikah, saya hamil. Di tengah kebahagiaan tersebut, saya mendapatkan informasi dari Kak Nurul. Informasi tentang pembukaan untuk PPG Prajabatan. Sekilas penjelasan Kak Nurul membuat saya tertarik. Saya secara langsung mencari informasi lewat instagram dan website PPG Prajabatan.

Beberapa waktu kemudian, pengumuman hasil seleksi PPG Prajabatan sudah ada. Saya bahagia dan tidak menyangka. Saya pun merasa tidak percaya diri, bisa kuliah dalam keadaan hamil. LPTK yang saya dapatkan terletak di tempat yang jauh dari Bontang. Saya pun harus mencari rumah kos. Perjuangan pun dimulai. Kuliah dalam keadaan hamil dan jauh dari suami. Kondisi kehamilan ada di trimester pertama, membuat saya mengalami kondisi yang sulit. Suami selalu meyakinkan saya. Keyakinan kalau saya bisa melewati semuanya dengan baik.

Perkuliahan dimulai. Saya merasa beda dengan kuliah S-1 yang agak santai. Tidak diburu-diburu oleh LMS. Dengan kondisi perkuliahan padat, pulang kuliah, lanjut mengerjakan tugas dan persiapan presentasi. Selain itu, hal yang juga membuat lelah adalah gedung bertingkat yang memaksa saya bolak-balik naik tangga dengan kondisi hamil. Pada awal perkuliahan tidak begitu terasa, tetapi semakin terasa ketika mendapat kelas PPL yang ruangannya sampai lantai lima. Tumit kaki terasa semakin letih menahan beban yang tiap hari harus mengajar, bolak-balik naik tangga menahan perut yang sudah semakin besar. Jika tidak karena keluarga, saya sudah pasti menyerah dari PPG Prajabatan.

Tiba masanya bulan Maret 2023, anak pertama kami lahir. Anak yang menemani perjuanganku kuliah PPG. Tantangan berikutnya pun datang. Saya harus menyelesaikan kuliah PPG dengan mengurus bayi yang baru lahir tanpa bantuan. Segala proses kulalui, hingga pada titik saya ingin menangis dengan kondisi yang semakin mengejar. Saya harus menyiapkan ujian,  menyiapkan wawancara, dan berbagai teka-teki lainnya yang kami alami pada PPG Prajabatan angkatan pertama. Ada dua yang menjadi pertanyaan besar. Apakah kita akan lulus? Setelah lulus, kita mengabdi kemana?

Pertanyaan ini menjadi pikiran saya berkecamuk. Karena kegiatan zoom terakhir, kami seangkatan diarahkan untuk mengisi mapping. Pengabdian dua tahun diganti dengan mengikuti tes PPPK. Di lubuk hati yang paling dalam, saya bertanya, “Apakah ini jawaban dari doa mamaku selama ini?”

Sambil menunggu sertifikat pendidik terbit, kita diarahkan mengikuti tes PPPK. Saya tidak berpikir panjang. Saya mengisi mapping daerah Kabupaten Kutai Timur. Waktu tempuh menuju kabupaten tersebut adalah dua jam dari Bontang.

Saat menunggu pengumuman kelulusan PPPK, suami mendapat undangan sebagai alumni Universitas Pertahanan untuk mengikuti Sekolah Penggerak yang dicanangkan oleh Pak Presiden Prabowo. Ketika pengumuman kelulusan PPPK, saya lulus dan diterima sebagai guru kelas di Kabupaten Kutai Timur. Ada satu hal yang membuat saya selalu tidak bisa tidur setiap malam. Pertanyaan tentang di mana saya ditempatkan. Kabupaten Kutai Timur memiliki delapan belas kecamatan yang tersebar luas sampai desa terpencil.

Pagi itu bertepatan dengan hari Jumat, saya bersama suami berangkat ke Sangat untuk mengambil proses penerimaan SK. Perasaan begitu berkecamuk karena informasi dari kabar burung. Saya ditempatkan di tempat jauh, Kecamatan Kaubun. Saya pun mencari tahu letak kabupaten tersebut. Jarak dari Bontang ke Kabupaten Kaubun sekitar delapan jam perjalanan. Dengan kondisi saya yang masih memiliki anak kecil berusia satu tahun lebih, sangat berat untuk aku melaksanakan tugas ini.

Waktu pengambilan SK tiba. Saya dan suami pergi ke Dinas Pendidikan. 

 “Ibu dapat penempatan mana?”, tanya seorang ibu.

“Tidak tahu..” 

“Ada di sebaran excel itu. berdasarkan data tersebut penempatannya”, jawab Ibu itu lagi.

Setelah sore berlalu, saya dan suami harus mengambil keputusan kilat, bahwa besok saya harus menuju Kaubun untuk mendatangi sekolah dan mencari rumah tempat tinggal. Suami saya tidak memiliki waktu lagi. Dia harus berangkat ke Jakarta karena masa pendidikan Sekolah Penggerak sudah dimulai.

Sepanjang perjalanan biasanya kami memutar musik, tetapi tidak kali ini. Tangisan sedih harus berpisah dengan suami dan dengan ditambah harus berpindah domisili ke daerah penempatan dengan jarak jauh. Keadaan diperparah karena di sana tidak ada listrik, ditambah lagi secara bersamaan saya hamil anak kedua. 

Perasaan saya berkecamuk, meronta-ronta, entah sikap apa yang harus saya ambil. Menjadi PPPK adalah impian ribuan orang. Namun, di sisi lain saya memiliki tanggung jawab sebagai ibu yaitu menjaga anak-anak.

Sesampai di sekolah, saya dan suami menyerahkan berkas dan bercerita dengan warga sekolah sebentar. Kemudian, saya mencari rumah sewa. Sejatinya di desa tempat saya ditempatkan tidak ada rumah sewaan. Rumah yang tersedia adalah rumah warga yang sudah tidak dipakai. Fasilitas rumah dinas juga tidak ada.

Setelah urusan selesai, pada hari itu juga kami kembali ke Bontang. Sampai di Bontang malam pukul delapan. Suami bersiap dan melanjutkan perjalanan ke Bandara Balikpapan. Itulah hari terakhir saya dan Shafa, anak pertama kami berjumpa dengan ayahnya.

Seminggu berlalu, saya harus mempersiapkan barang-barang pindahan dan segala keperluan. Dua benda yang sangat penting adalah senter dan power bank karena tidak ada listrik. Saya menyiapkan mental untuk membawa anakku yang pertama. Saya juga membawa ibu. 

Mempersiapkan segala persiapan pindahan menguras isi dompet. Aku tercengang di sepanjang perjalanan. Pemandangan hutan sawit menghiasi setiap jengkal tanah. Saya pun berandai-andai. Andai saya tidak memilih Kabupaten Kutai Timur, saya tidak akan mengalami perjuangan seberat ini. Saya pasti gembira, sama dengan teman lainnya yang penempatan di kota dan dekat dengan keluarga.

Ibu memandangku dengan penuh kekuatan. Matanya yang berkaca-kaca. Saya ingat pesan ibu agar saya belajar yang baik agar menjadi “orang”. Di dalam mata ibu yang sayu lemah, saya melihat kekuatan untuk berjuang.

 

Secercah Impian

Saya mengawali kegiatan pembelajaran dengan berkenalan dan bercerita pengalaman. Di sela saya mengajar, saya melihat perjuangan mereka ke sekolah harus menempuh jarak yang jauh. Jarak tersebut ditempuh dalam waktu satu jam setengah dari rumah dengan bus. Bangun lebih awal agar tidak ketinggalan bus. Bahkan, mereka harus mengeluarkan tenaga fisiknya melewati jalan yang rusak. 



 Aku berefleksi kembali bahwa aku dibutuhkan oleh mereka. Jika saya tidak melihat senyumnya ketika saya datang ke kelas, mungkin saya sudah menyerah menjadi guru. Jika aku tidak mendengar sapaan dan pertanyaan sederhana tentang kehadiran saya di kelas.

Jika aku tidak melihat semangatnya dalam menuntut ilmu, mungkin saya sudah menyerah menjadi guru. Tidak ingin berkata lain, senyum murid saya adalah penyemangat dalam pengabdian. Sewaktu saya cuti melahirkan anak keduaku, surat para murid membuat terharu. Menurut mereka, saya adalah guru yang bisa mengajaknya mewujudkan impiannya.

signal_cellular_alt dilihat: 119 x